Fadilah Majelis Ilmu

Beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah saw dan diwariskan kepada kita amat sangat banyak jumlahnya, maka dalam pembahasan ini kita akan mengkaji beberapa amalan tersebut :
1.SHALAT
a. Perbanyak Shalat di Dua Masjid Al-Haram
Diriwayatkan, shalat satu rakaat di Masjid Al- Haram sama dengan 100 ribu rakaat shalat di masjid lain. Jabir bin Abdullah menceritakan sabda Rasulullah saw, “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali shalat di tempat lain, kecuali Masjid Al-Haram. Shalat di Masjid Al- Haram lebih utama daripada 100 ribu shalat di tempat lain.” (H.R. Imam Ahmad )
Jika kita membiasakan shalat sunnah rawatib di negeri kita 12 rakaat setiap hari, maka setiap tahun jumlah rakaat shalat kita akan mencapai 4.320 rakaat (12 x 360 = 4.320), akan tetapi shalat dua rakaat di masjid Al- Haram sama dengan 200 ribu rakaat shalat di masjid lain. Artinya jika kita ingin memperoleh pahala 200 ribu rakaat di negeri kita dibutuhkan sekitar 46 tahun 3 bulan (200.000/4.320 = 46.30) itupun kita harus melaksanakannya dengan sempurna setiap hari.
b. Shalat Jamaah di masjid bagi laki-laki
Abu Hurairah ra meriwayatkan sabda Rasulullah saw : “Shalat bersama imam lebih utama daripada 25 kali shalat sendirian.” (H.R. Muslim 5/152) . Akan tetapi tidak dianjurkan bagi wanita untuk shalat wajib berjamaah di masjid.
Ummu Hamid, istri Abu Hamid As-Sa’idi pernah mendatangi Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya menyukai shalat bersamamu”, Rasulullah saw menjawab, “Sungguh saya telah mengetahui bahwa engkau menyukai shalat bersamaku. Tapi shalatmu di rumah lebih utama daripada shalat di bilikmu. Shalat di bilikmu lebih utama daripada shalat di rumahmu. Shalat di rumahmu lebih utama daripada shalat di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih utama daripada shalat di masjidku.” Wanita itupun lalu memerintahkan untuk dibangunkan untuknya sebuah mushalla di salah satu sudut rumahnya. Ia selalu shalat disana hingga ia wafat”.
(H.R. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2/34) dan di hasankan oleh Al-Albani).
c.Mengerjakan shalat Sunnah di rumah
Shuhaib Ar-Rumi ra meriwayatkan sabda Rasulullah saw : “Shalat Sunnah seseorang dimana ia tidak dilihat oleh manusia lebih utama 25 kali daripada shalat yang disaksikan oleh manusia.” (H.R. Abu Ya’la dalam Musnadnya, dishahihkan oleh Al- Albani dalam shahih Al-Jami’ No.3281).
d.Memenuhi Adab Shalat Jum’at
Terdapat sejumlah adab shalat jum’at yang harus kita pelajari dalam rangka memuliakan hari jum’at, dimana Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan kemuliannya. Sedikitnya ada lima adab yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aus bin Ats-Tsaqafi. Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang menggauli istrinya lalu ia mandi (ghassala), berangkat di awal waktu dan mendapatkan awal khutbah, berjalan dan tidak berkendaraan, dekat dari imam, mendengarkannya, dan tidak melakukan perbuatan sia-sia, maka setiap satu langkah (dihitung) sama dengan amal puasa dan shalat selama setahun.” (H.R. Imam Ahmad, dihasankan oleh Al- Albani dalam Shahih Al- Jami’ (No. 6405).
Akan tetapi jangan sampai kita meninggalkan shalat Jum’at tanpa udzur syar’i karena Nabi saw bersabda : “Barang siapa yang meninggalkan shalat jum’at sebanyak tiga kali secara sengaja, maka Allah akan mengunci mati hatinya.” (H.R. Imam Ahmad, Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ No. 6143)
e.Rutin Shalat Dhuha
Abu Dzar Al Ghifari ra meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda : “Setiap persendian salah seorang dari kalian memiliki sedekah yang harus ditunaikan. Setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil sedekah, setiap takbir sedekah, menyuruh yang ma’ruf sedekah, mencegah yang munkar adalah sedekah. Dan itu cukup dengan mengerjakan rakaat shalat Dhuha.” (H.R. Muslim dalam kitab Al Musafirin,bab Istihbab Shalat Adh Dhuha (5/233).
f. Melaksanakan Shalat Isyraq
Anas bin Malik meriwayatkan sabda Rasulullah saw : “Barang siapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah lalu ia duduk berdzikir hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti orang yang berhaji dan umroh secara sempurna, sempurna, sempurna (Rasulullah saw menyebutkannya sampai tiga kali)” (Diriwayatkan oleh Imam At- Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani dalam shahih At-TirmidziNo. 480).
g.Menghadiri Majlis Ilmu dan Pengajian di Masjid
Hadir di majlis ilmu atau di pengajian akan dicatat seperti pahala orang yang berhaji. Abu Umamah t meriwayatkan sabda Nabi saw : “Barang siapa yang berangkat ke masjid dimana ia tidak menghendaki kecuali untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti orang yang behaji secara sempurna. ” (H.R. At-Thabrani 8/94 dan Al-Hakim (1/91).
h.Menjadi Muadzin atau Mengikutinya
Rasulullah saw memberitahukan kepada sahabatnya tentang keutamaan muadzin dan adzan. Untuk menunjukkan besarnya pahala yang didapatkan oleh seorang muadzin, salah seorang sahabat pernah bertanya, “Bagaimana seseorang bisa memperoleh kemenangan sebagaimana kemenangan yang diperoleh muadzin?.” Abdullah bin Amr menceritakan tentang seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin memiliki keutamaan dari kami. “Rasulullah pun bersabda, “Ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin. Jika telah selesai, bermohonlah kepada Allah, niscaya engkau akan diberi.” (Imam Abu Daud dalam kitab As- Shalat (2/227) dihasankan oleh Al- Arnauth dalam jami’ Al Ushul (9/385) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami” (3044).

2. HAJI DAN UMRAH
a. Menghajikan Orang lain
Orang-orang shalih terdahulu sangat gemar menunaikan ibadah haji dalam rangka menyambut seruan Rasulullah saw. Salah satu bentuk shadaqah yang mulia bagi orang yang mampu secara harta adalah memberikan kesempatan untuk orang lain menunaikan ibadah haji karena kewajiban haji bagi seorang muslim adalah hanya sekali selama hidupnya maka berilah kemudahan bagi saudaranya untuk datang ke Tanah Haram. Abdullah bin Masud meriwayatkan sabda Rasulullah saw : “Ikutilah antara haji dan umrah. Sesungguhnya keduanya menjauhkan kefakiran dan menghapus dosa sebagaimana alat kikir yang mengikis besi, emas dan perak.” (H.R. Imam Ahmad ).
b. Umroh pada Bulan Ramadhan
Abdullah bin Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah berkata kepada Ummu Sinan, seorang shahabiyah dari kalangan Anshar : “Umrah pada bulan Ramadhan sama dengan pahala orang berhaji atau haji bersamaku.” (H.R. Al-Bukhari 3/805 dan Muslim 2/9).
Demikianlah beberapa penjelasan tentang amalan-amalan sunnah yang memiliki keutamaan dan pahala sangat luar biasa yang belakangan ini sudah ditinggalkan oleh sebagian besar kaum muslimin, maka berbahagialah orang-orang yang tetap menghidupkan sunnah-sunnahnya Nabi saw, akan dimasukkan kedalam golongan beliau saw kelak pada hari kiamat, dan hanya pada Allah kita semua memohon ampun atas segala dosa. Allah ‘Alam Bis Sowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: