Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 6

Hadist ke-9

“Dari Abdullah bin Umar r.a berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Pada hari kiamat kelak akan diseru kepada ahli Al Quran, “Teruskanlah bacaan Quranmu dan teruskanlah menaiki surga tingkat demi tingkat dan bacalah dengan tartil seperti yang telah engkau baca di dunia, karena sesungguhnya tempat terakhirmu adalah dimana engkau telah sampai pada ayat terakhir yang kamu baca.” (Hr.Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai, Ibnu majah , dan Ibnu Haban)

Yang dimaksud dengan “ahli Quran” yaitu orang yang hafizh Quran. Mulla Ali Qari rah.a, telah menerangkan bahwa penghormatan ini dikhususkan kepada hafizh dan tidak ditunjukan kepada orang yang membaca al Quran dengan cara melihat. Pertama, karena perkataan “ahli quran” itu ditunjukan kepada hafizh. Kedua,sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari Imam Ahmad yang berbunyi:“Sehingga ia membaca apa saja dari al Quran itu bersamanya.”

Perkataan ini lebih jelas merujuk kepada hafizh, walaupun seorang pembaca yang senantiasa berdampingan dengan bacaan al Quran bisa juga termasuk di dalamnya. Dalam kitab Mirqat disebutkan, bahwa hadist ini tidak berlaku bagi orang yang membaca al Quran sedangkan al Quran mengutuknya. Berdasarkan hadist yang menyatakan, “Banyak orang yang membaca al Quran tetapi al Quran mengutuknya.” Dengan demiian orang yang membaca al Quran tetapi tidak lurus dengan aqidahnya,maka tidak termasuk kedalam golongan orang yang disukai Allah.Banyak hadist megenai hal ini yang berhubungan dengan kaum Khawarij ( kelompok orang yang menentang kekhalifahan Ali r.a)

Syah Abdul Aziz rah.a menerangkan di dalam tafsirannya “tartil” makna dasarnya adalah membaca Al Quran dengan baik dan jelas. Sedangkan menurut syar’i adalah membaca al Quran dengan mengikuti aturan – aturan tertentu. seperti di bawah ini:

1.

Setiap huruf hendaknya diucapkan dengan makhraj yang benar untuk memastikan asal hurup yang tepat, dengan demikian sebutan (tha’) tidak dibaca (ta’) tidak dibaca(zha’) dan seterusnya.
2.

Berhenti pada tempat yang benar, sehingga sambungan atau kesudahan ayat-ayat itu tidak diletakkan pada tempat yang salah.
3.

Membaca harakatnya dengan benar yaitu, menyebutkan Fathah, Kasrah, dan Dhamah dengan perbedaan yang jelas.
4.

Naikkan suara sedikit, dengan demikian ayat-ayat al Quran yan diucapkan oleh lidah terdengar oleh telinga dan bisa mempengaruhi hati.
5.

Ucapkan dengan suara yang indah dan penuh perasaan sehingga menimbulkan simpati dan cepat mempengaruhi hati dan menguatkan rohani.
6.

Menurut para ahli pengobatan, jika suatu obat ingin cepat memberikan pengaruh pada hati, hendaknya obat itu dicampuri wangi-wangian karena hati sangat sensitif terhadap wangi-wangian.Cara lain agar obat lebih cepat berpengaruh kedalam hati dapat dicampur dengan rasa manis, karena hatipun menyukai rasa manis. Karena itu, seseorang yang memakai harum-haruman ketika membaca al Quran akan memberikan kesan yang lebih kuat kepada hati si pembaca. Setiap tasydid dan mad, hendaklah diucapkan dengan jelas karena dapat menghasilkan keagungan al Quran dan menambahkan kesannya.
7.

Melaksanakan hak ayat-ayat rahmat dan ayat-ayat azab, seperti telah disebutkan sebelumnya.

Tujuh aturan tersebut diatas merupakan cara yang benar untuk membaca al Quran, biasanya disebut dengan istilah “tartil” yang tujuannya adalah untuk dapat memahami dan meresapi isi kandungan al Quran.

Ummu Salamah (Umul Mukminin) r.a pernah ditanya oleh seseorang, bagaimana Rasulullah saw membaca al Quran, beliau menjawab, “Apabila Rasulullah saw. Membaca al Quran, beliau selalu menunaikan setiap harakatnya, fathah, dhamam, dan kasrahnya dengan jelas juga menyebutkan setiap hurufnya dengan jelas.”

Membaca al Quran dengan tartil adalah mustahab, walaupun tidak mengerti maknanya. Ibnu Abbas r.a berkata bahwa ia lebih suka membaca surat-surat yang pendek seperti al Qari’ah atau al Zilzalah dengan tartil (mengikuti aturan yang benar) daripada surat-surat yang panjang seperti al Bagarah atau Ali Imran tetapi tidak mengikuti aturannya.

Para ulama tafsir menerangkan maksud hadist diatas, bahwa apabila seseorang membaca al Quran, maka setiap ayat demi ayat yang dibaca akan menaikkan derajatnya ketingkat yang lebih tinggi didalam surga.Dalam sebuah Hadist diterangkan bahwa tingkatan didalam surga itu sebanyak jumlah ayat dalam al Quran. Dengan demikian, seseorang yang mahir dalam seluruh al Quran akan mendapat derajat yang paling tinggi di dalam surga.

Mulla Ali Qari rah.a menulis sebuah riwayat hadist bahwa tidak ada tingkat yang lebih tinggi di dalam surga daripada yang dianugrahkan kepada pembaca al Quran, karena pembaca al quran akan diberi tingkatan sebanyak ayat yang telah di bacanya ketika di dunia. Allamah Dani rah.a berkata dalam sahihnya, “Para ulama telah sepakat bahwa terdapat 6.000 ayat, 6.014 ayat, 6.019 ayat, 6.025 ayat, 6.036 ayat.”

Dalam Syarah Ihya disebutkan , “Setiap ayat menyamai satu tingkat didalam surga, jadi pembaca al Quran akan diperintahkan naik menurut ayat yang dibacanya. Orang yang membaca seluruh al Quran akan mendapatkan derajat atau tingkat yang paling tinggi. Sedangkan bagi seorang yang hanya membaca sebagian saja dari al Quran, maka baginya tingkatan sesuai dengan apa yang ia baca. Dengan demikian, kedudukan seseorang di dalam surga sesuai dengan usaha yang dia lakukan.”

Menurut pendapat saya (Maulana Zakariya rah.a), Hadist diatas mempunyai makna yang berbeda.

“Jika penafsiran saya benar, maka sesungguhnya berasal dari Allah, Jika penafsiran saya salah, maka kesalahan itu adalah karena kebodohan saya dan dorongan syetan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya bebas dari kesalahan itu”

Saya berpendapat, bahwa maksud tingkatan surga disebutkan daam hadist di atas bukan hanya seperti yang telah dijelaskan yaitu, orang yang membaca satu ayat al Quran akan dinaikan baginya satu derajat, baik membacanya dengan tartil ataupun tidak. Singkatnya siapa saja yang membaca satu ayat al Quran, maka derajatnya akan dinaikkan satu tingkat. Akan tetapi hadist pun mengisyaratkan tentang satu tingkatan yang lain, yaitu tingkatan menurut pembacanya, apakah dengan tartil atau tidak.Barang siapa membaca al Quran dengan tartil di dunia, maka ia akan memperoleh derajat yang lebih tinggi di akhirat nanti.

Mulai Ali Qari rah.a mengutip salah satu hadist yang menyatakan, bahwa jika seseorang sering membaca al Quran semasa hidupnya di dunia, ia dapat mengingatnya di akhirat kelak; jika tidak, maka ia akan lupa kepada al Quran. Semoga Allah swt memberikan pertolongan kepada kita di akhirat.

Banyak diantara kita yang menghafal al Quran semenjak kecil karena adanya dorongan dari orang tua, tetapi karena sikap ketidak pedulian kita, hafalan itu telah hilang pada hari tua kita.Telah disebutkan dalam hadist : “Barangsiapa meninggal dunia sedang berusaha dan bersusah payah menghafal al Quran ,maka kelak pada hari kiamat ia akan digolongkan sebagai hafizh Quran. Kemurahan Allah itu tidak terbatas, hendaklah kita mengejarnya,sebagaimana seseorang penyair berkata: “Wahai Syahid, kemurahan-Nya untuk semua, kamu tidak akan menapikkan (kemurahan itu), jika kamu sepenuhnya berlaku baik.

Hadits ke -10

Dari ibnu Mas’ud r.a berkata,Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu hasanah (kebaikan) dan satu hasanah adalah sama dengan sepuluh kali lipat pahalanya. Saya tidak mengatakan bahwa (alif lam mim) itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Hr.Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan , bahwa jika suatu amal akan diberikan pahala, maka akan dipertimbangkan menurut keseluruhan amalan tersebut. Namun dalam hal al Quran, walaupun amal itu dilakukan sebagian, maka akan dianggap sebagai suatu amal tersendiri. Karena itulah setiap huruf yang dibaca dianggap sebagai suatu amal kebaikan, dan pahala bagi satu amal kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah swt :

“ Barangsiapa mengerjakan satu amal kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat.”(Qs.al An’am ayat 160)

Walaupun begaimanapun sepuluh kali lipat ini adalah tambahan yang paling rendah, karena Allah swt melipat gandakan pahala sesuai dengan kehendak-Nya:

“ Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (Qs.al Baqarah ayat 261)

Setiap huruf dalam al Quran yang dibaca dianggap sebagai satu amal kebaikan, seperti telah digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam hadits diatas. Dengan demikian, maka membaca (alif lam mim) akan mengandung tiga puluh rahmat. terdapat perbedaan pendapat mengenai alif lam mim ini, apakah ia dari permulaan surat al Baqarah atau permulaan surat al Fiil. Jika alif lam mim itu dari permulaan surat al Baqarah dan hanya tiga huruf saja, maka pahalanya adalah tiga puluh rahmat.Tetapi jika alif lam mim itu permulaan surat al Fiil, maka alif lam mim yang ada dalam permulaan surat al baqarah akan menjadi sembilan huruf (setelah dipanjangkan dengan mad). Dengan demikian pahalanya menjadi sembilan puluh rahmat.

Baihaqi rah.a meriwayatkan sebuah hadits lain yang hampir serupa,”Saya tidak mengatakan (bismilah) itu satu huruf,tetapi (ba), (sin), (mim) dan seterusnya adalah huruf-huruf yang terpisah. (Sumber Buku Himpunan Kitab Fadhail Amal Hal 351-355)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: