Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 5

Hadist ke-8

Dari Abdur Rahman bin Auf r.a berkata, Rasulullah saw bersabda “Pada hari kiamat kelak tiga hal yang akan berada dibawah perlindungan ‘Arasy: 1) Al Quran yang mulia yang akan membela manusia, Al-Quran mempunyai jasmani dan rohani; 2) Amanat dan 3) silaturahmi yang akan berseru, “Ingatlah ! Barangsiapa menyambungkan aku, maka Allah menjalin hubungan dengannya dan barang siapa memutuskan aku, maka Allah memutuskan hubungan dengannya.” (Syarhus Sunnah)

Ungkapan tiga hal yang akan berada dibawah perlindungan ‘Arasy ilahi” menyatakan tentang sempurnanya kedekatan, yakni seseorang sangat dekat ke tempat tertinggi dalam Arasy Allah swt. Ungkapan “Al-Quran akan membela” maksudnya, bahwa Al-Quran akan memohonkan sesuatu untuk orang yang membacanya, menghormatinya, dan mengamalkannya. Ia akan menjadi Syafaat bagi mereka dan akan mengangkat derajat mereka. Mulla Ali Qari rah.a mengutip sebuah hadist riwayat Tirmidzi, bahwa al Quran akan meminta kepada Allah swt agar memberikan pakaian kepada pembacanya maka Allah memberikan mahkota kemuliaan kepada orang tersebut. Al-Quran meminta tambahan lagi kepada Allah, maka Allah swt menghadiahkan kepadanya pakaian kemuliaan lengkap. Sekali lagi Al-Quran meminta kepada Allah agar memberikan kasih sayang kepadanya, maka Allah swt menyatakan keridhaan-Nya kepada orang itu.

Dalam kehidupan ini, apabila kita memperoleh kesukaan atau keridhaan dari seorang yang kita cintai, maka kita menganggapnya sebagai suatu kenikmatan yang sangat besar. Begitu pula dengan kehidupan akhirat tidak ada rahmat yang besar yang sebanding dengan keridhaan Allah swt yang kita cintai.Sedangkan bagi orang yang tidak mengindahkan kewajiban mereka terhadap al Quran akan mendakwanya dengan berkata “Apakah kamu pernah menjaga aku? Apakah kamu telah menunaikan hak-hak aku?’

Dalam syarah ihya diterangkan, bahwa hal al Quran adalah dibaca hingga tamat dua kali dalam setahun. Mereka yang tidak mengindahkan hak ini, hendak berfikir bagaimana mereka dapat membela diri dari dakwaan sekeras ini. Sedangkan maut adalah pasti dan tidak ada jalan untuk lari darinya.

Ungkapan “al Quran memiliki zhahir dan batin” adalah zhahir al Quran maksudnya bahwa ia memiliki makna yang dapat dimengerti oleh semua orang, sedangkan batin Al Quran maksudnya adalah bahwa Al Quran memiliki makna yang sangat dalam yang tidak dapat dipahami oleh setiap orang. Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang mengemukakan pendapatnya sendiri mengenai suatu yang ada dalam al Quran maka ia telah melakukan kesalahan, walaupun pendapatnya itu benar.” sebagian ulama berpendapat, bahwa maksud “Zhahir al Quran “ (jasad al Quran) adalah merujuk kepada kalimat-kalimat dalam al Quran yang dapat dibaca dengan baik oleh setiap orang. Sedangkan “batin al Quran” (rohani al Quran) adalah merujuk kepada maksud-maksudnya baik yang tersurat maupun yang tersirat yang pemahamannya berbeda sesuai dengan kemampuan pembacanya.

Ibnu Masud r.a berkata, “Jika kamu ingin memperoleh ilmu,maka hendaklah kamu memikirkan dan merenungkan makna-makna al Quran karena didalamnya mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sesudahya. “Oleh karena itu, untuk dapat memahami isi kandungan al Quran, sangat penting bagi kita memperhatikan dan menunaikan adab-adabnya dan syarat-syarat penafsiran al Quran.Yang menjadi kekhawatiran sekarang, mereka yang hanya memiliki sedikit ilmu bahasa Arab, bahkan ada yang tidak memiliki sama sekali,dengan hanya merujuk kepada terjemahan al Quran sudah berani menyimpulkan sendiri dengan pendapatnya. Para ulama menggariskan bahwa siapa pun yang mau mencoba menafsirkan al Quran, mestilah ia mempunyai keahlian didalam lima belas ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak setiap orang dapat memahami maksud yang tersirat dari al Quran yang mulia ini. Secara ringkas, ilmu-ilmu tersebut akan diterangkan dibawah ini.:

  1. Ilmu Lughat (philology); yaitu ilmu yang mempelajari makna-makna setiap lafazh atau kata dari al Quran.Mujahid rah.a berkata, “Barang siapa yang percaya kepada Allah dan hari kiamat, janganlah membuka mulutnya mengenai al Quran melainkan ia benar-benar mahir dengan (lughat) bahasa Arab. Kadang-kadang satu kata dalam bahasa Arab, memiliki beberapa makna. Seseorang mungkin hanya mengetahui satu atau dua makna saja, padahal maksud yang sebenarnya boleh jadi berbeda.
  2. Ilmu Nahwu (Syntax); yaitu ilmu tata bahasa yang mempelajari hubungan antara satu kata dengan kata lain dan I’rab (perubahan bunyi setiap huruf akhir dari suatu kalimah). Perbedaan pada I’rab biasanya akan mengakibatkan perubahan pada makna.Oleh karena itu sangat penting untuk mempelajari ilmu Nahwu ini.
  3. Ilmu Sharaf (Ethymology); Merupakan cabang dari ilmu nahwu yang mempelajari asal-usul kata dan konjungsinya (Kata benda yang dijadikan kata kerja). Maksud dari suatu kata dapat berubah artinya dengan mengikuti asal katanya atau konjungsinya. Ibnu Faris rah.a berkata, “Seseorang yang tidak memiliki ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal dari dirinya”. Allamah Zamakhsyari rah.a dalam Tafsir A’jubat menceritakan, “Ada seseorang yang telah menterjemahkan ayat ini: “ Pada hari dimana kami memanggil setiap manusia

    bersama pemimpinnya.” (Qs.al Isra ayat 71)

    karena ia tidak mengetahui ilmu sharaf, maka tanpa disadari dia menerjemahkan ayat itu seperti ini “Pada hari dimana kami memanggil setiap manusia bersama ibunya”. Dia mengira, kata ‘Imaam’ (pimpinan) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal), adalah jamak dari kata ‘Umm’ (ibu) kalau saja dia mahir dalam ilmu sharaf, tentu dia akan mengetahui bahwa bentuk jamak dari kata ‘umm’ bukanlah ‘imaam’.

  4. Ilmu Isytiqaq (Derivatives); yaitu ilmu yang mempelajari tujuan dan asl kata. ilmu ini perlu, karena jika satu kata datang dari dua asal kata, maka akan memiliki arti yang berlainan. Misalnya kata ‘masih’yang berasal dari kata ‘masah’ artinya menyeluruh atau meletakkan tangan yang basah ke atas suatu benda lalu menariknya, tetapi apabila berasal dari kata ‘masaahat’ maka artinya adalah ukuran.
  5. Ilmu Ma’ani (semantik) ; yaitu ilmu yang mempelajari tentang tarkib (susunan kalimat) dari segi maknanya. Ilmu ini sangat penting diketahui karena bentuk suatu ayat dapat dipahami dari maknanya.
  6. Ilmu Bayan (speech); yaitu ilmu yang mempelajari cara-cara peraturan sehingga bisa diketahui makna zhahir dan makna yang tersembunyi, juga mempelajari permisalan dan kiasan.
  7. Ilmu Badi’ (rhetoric) ; yaitu ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Satu cabang ilmu yang dapat mengungkap rahasia keindahan bahasa dan kesan-kesannya.

    Tiga ilmu di atas (ilmu ma’ani, bayan, dan badi’) merupakan cabang ilmu balaghah yang sangat penting bagi seorang ahli tafsir untuk menguasainya karena al Quran yang mulai adalah mukjizat yang sempurna dan susunan kalimatnya sangat mengagumkan. Semua itu hanya dapat dipahami setelah ketiga ilmu ini dikuasai.

  8. Ilmu Qira’at ; yaitu ilmu tentang seni penyembutan huruf.Ilmu ini sangat penting, karena perbedaan dari segi bacaan kadang-kadang membawa perbedaan makna dan kadang-kadang suau kata lebih diutamakan dari kata lainnya.
  9. Ilmu ‘Aqaid ; Ilmu ini sangat penting karena ilmu ini mempelajari dadar-dasar aqidah dan keimanan. Kadang-kadang ada beberapa ayat yang mutlak berhubungan dengan Allah, tetapi kalau diartikan secara mutlak, maka maknanya jadi tidak benar, untuk mengetahui makna sebenarnya perlu ditakwilkan ayat berikut ini : “Tangan Allah di atas tangan mereka” (Qs.al Fath ayat 10) maksud sebenarnya, bahwa Allah tidak mempunyai tangan secara jasmani.
  10. Ilmu Usul Fiqih; ilmu untuk mengetahui prinsip-prinsip perundangan Islam. Ilmu ini sangat penting, karena dengannya suatu ayat dapat dijadikan dalil dan hujjah (alasan) untuk mendukung suatu kebenaran.
  11. Ilmu Asbabun Nuzul; yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya wahyu. ilmu ini sangat penting, karena jika kita mengetahui kapan dan dalam keadaan bagaimana ayat itu diturunkan, maka maksud suatu ayat akan lebih dipahami.
  12. Ilmu Masikh Mansukh; ilmu ini sangat penting, karena dengan ilmu ini akan diketahui mana hukum-hukum (perintah Allah) yang telah dihapus atau diubah (mansukh), dan mana yang masih berlaku.
  13. Ilmu Fiqih; yaitu ilmu mengenai hukum-hukum dalam syari’at islam. ilmu ini sangat penting dipelajari, karena hanya dengan ilmu ini kita dapat memahami secara sempurna hukum-hukum dalam islam.
  14. Ilmu Hadits; yaitu ilmu untuk mengetahui hadits-hadits tertentu yang menjadi penafsir terhadap ayat-ayat al Quran yang ringkas.
  15. Ilmu Wahabi ; ilmu yang terakhir dan terpenting, yaitu suatu bakat kepahaman yang dikaruniakan oleh Allah kepada orang-orang terpilih seperti disebutkan dalam hadits: “Barangsiapa beramal dengan apa yang diketahuinya,maka Allah akan menganugrahkan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.”Juga sebagaimana jawaban Ali Karramallaahu wajhah, ketika beliau ditanya oleh orang-orang, “Apakah engkau telah mendapatkan suatu ilmu atau penerangan yang khusus dari Rasulullah saw. Yang tidak pernah diterima oleh orang lain? Ali r.a berkata, “Demi Allah yang telah menciptakan surga dan kehidupan, saya tidak mempunyai sesuatu yang khusus melainkan pemahaman Al-quran yang telah dianugerahkan oleh Allah yang maha kuasa kepadaku.” Ibnu Abi Dunya rah.a berkata, “Ilmu Al-quran yang didapat darinya adalah sangat luas laksana lautan yang tidak bertepi.”Cabang-cabang ilmu diatas adalah sebagai alat dan syarat-syarat yang penting bagi seorang penafsir. Penafsiran dari seseorang yang tidak benar-benar mahir dengan cabang-cabang ilmu ini dan hanya berdaarkan pendapatnya sendiri harus dicegah. Para sahabat r.a memperoleh ilmu bahasa Arab secara kebetulan karena merupakan bahasa ibu mereka, sedangkan ilmu lainnya mereka mempelajarinya secara mendalam melalui Rasulullah saw. Allamah Suyuti rah.a berkata, “Orang-orang yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan ilmu wahabi adalah diluar kemampuan manusia, pendapat itu tidak benar. Karena cara untuk mendapatkan pengetahuan langsung dari Allah tanpa belajar telah ditunjukkan oleh Allah sendiri, yaitu dengan mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya dan tidak mencintai keduniaan. Seperti ditulis dalam kitab Kimiya Sa’adat, “Tiga golongan orang berikut ini tidak akan berhasil menafsirkan Al-quran, yaitu : pertama, seorang yang tidak mahir dalam bahasa Arab. Kedua, orang yang selalu membuat dosa-dosa besar atau orang yang membuat bid’ah karena perbuatan ini dapat menggelapkan hatinya dan menghalanginya dari memahami Al-Quran. Ketiga, seorang yang menggunakan alasan-alasan rasional (pikiran) semata walaupun dalam hal keimanan, ia merasa tidak suka apabila ia membaca satu ayat Al-quran yang tidak sesuai dengan akal pikirannya. Orang-orang seperti ini tidak akan mampu memahami Al-quran dengan benar. (Sumber Himpunan Kitab Fadhail Amal Hal 346-350)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: