Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 2

Hadits ke-3

Dari Uqubah bin Amir r.a menceritakan bahwa Rasulullah saw datang kepada kami ketika kami sedang duduk diatas shuffah, lalu beliau bertanya, “Adakah salah seorang diantara kalian yang suka pergi setiap hari ke pasar Buthan atau Aqiq lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta betina dari jenis yang terbaik tanpa melakukan satu dosa pun atau memutuskan tali silaturahmi?Kami menjawab, “Ya Rasulullah, setiap orang dari kami suka untuk melakukannya.” Rasulullah saw bersabda, “Mengapa tidak pergi salah seorang di antara kalian ke mesjid lalu mempelajari atau membaca dua buah ayat al Quran (padahal yang demikian itu) lebih baik baginya dari pada dua ekor unta betina, tiga ayat adalah lebih baik dari tiga ekor unta betina,dan begitu pula membaca empat ayat adalah lebih baik baginya daripada empat ekor unta betina dan jumlah yang sama dari unta-unta.”(Hr.Musli dan Abu Dawud )

Shuffah adalah nama satu lantai yang ditinggikan di dalam mesjid Nabi saw di Madinah. Tempat ini pernah didiami oleh orang-orang islam Muhajirin yang miskin (yang hijrah dari Makkah). Mereka dikenal dengan nama ‘Ashhabus Suffah’ (orang-orang Shuffah). Jumlah mereka berubah dari waktu ke waktu. Allamah Sayuti rah.a telah menyusun nama-nama para sahabat yang tinggal di Shuffah dalam sebuah kitab yang khusus, jumlahnya sekitar seratus orang.

Buthhan dan Aqiq adalah nama dua buah pasar tempat jual beli unta yang berbeda di dekat kota Madinah.Unta adalah hewan yang paling digemari oleh orang Arab, terutama unta betina yang mempunyai punuk besar.

Pernyataan ‘tanpa melakukan satu dosa’ adalah penting disebutkan, karena bisa saja sesuatu didapatkan melalui pemesan, mengambil secara paksa, dengan kekerasan, atau melalui pencurian. Rasulullah saw menyebutkan syarat-syarat tersebut, karena mendapatkan sesuatu tanpa usaha dan tanpa melakukan dosa sudah tentu menjadi pilihan setiap orang, tetapi yang lebih bernilai adalah mempelajari beberapa ayat al Quran. Hakikat inilah yang harus kita yakini, karena jangankan seekor atau dua ekor unta, bahkan seseorang yang memiliki kekayaan seluas tujuh benua pun pasti akan ditinggalkan jika ajal telah tiba. Tetapi ganjaran bagi pembaca ayat al Quran adalah kekal untuk selama-lamanya.

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang diberi satu rupiah tanpa syarat untuk mengembalikannya akan lebih senang daripada diberi seribu rupiah tetapi hanya sementara, karena ia hanya dibebani amanah tanpa memperoleh keuntungan apa-apa darinya.

Maksud yang sebenarnya dari Hadits ini adalah memberi peringatan kepada kita supaya jangan membandingkan sesuatu yang sementara dengan yang kekal. Ketika sedang bergerak maupun sedang diam, hendaknya kita menimbang-nimbang, apakah kita sedang mengusahakan sesuatu yang sifatnya sementara dan sia-sia, atau melakukan sesuatu yang bermanfaat dan memiliki keuntungan yang lebih kekal. Alangkah ruginya orang yang menghabiskan waktunya dengan sesuatu yang sia-sia dan mendapatkan kemalangan yang kekal.

Bagian akhir hadits ini yang menerangkan kedudukan membaca ayat adalah lebih utama daripada unta betina yang jumlahnya sama. Hal ini mempunyai tiga makna. Makna Pertama, sampai dengan dengan jumlah keempat ganjarannya diberikan secara terperinci, selanjutnya disebutkan bahwa lebih banyak ayat dibaca, maka lebih besar lagi keuntungannya. Menurut pengertian ini, perkataan ‘unta-unta’ sama saja apakah unta betina ataupun unta jantan, dan bilangan disebutkan dengan rinci sampai empat supaya dapat dibayangkan bagaimana jika lebih dari empat.

Makna kedua, adalah bilangan yang disebutkan sama dengan yang semula, hanya arah maksudnya saja yang berlainan. Sebagian lebih senang kepada unta betina, sebagian lebih senang kepada unta betina, sebagian lagi lebih senang unta jantan. Karena itu Rasulullah saw mengunakan rangkaian kata ini untuk menunjukan setiap ayat nilainya lebih tinggi daripada seekor unta betina. Tetapi jika seseorang itu lebih senang dengan unta jantan, maka satu ayat lebih tinggi nilainya dari pada seeokor unta jantan.

Makna ketiga ialah, bilangan itu adalah sama dengan keadaan sebelumnya, tidak lebih dari empat. Bahkan kurang baik jika merujuk pada makna kedua yang menyebutkan bilangan unta betina saja atau unta jantan saja. Tetapi lebih utama daripada kedua jenis unta tersebut. Maka satu ayat lebih baik daripada satu unta jantan dan unta betina, dua ayat lebih baik daripada dua ekor unta jantan dan unta betina, dan begitu seterusnya.Ayahku (bapak pengarang yang mulia nawwarallaahu maqardahu) lebih suka memilih panafsiran yang ketiga ini, karena membawa kepada nilai ganjaran yang lebih tinggi,tetapi bukan dalam makna yang sesungguhnya, karena ganjaran satu ayat tidak dapat disamakan dengan seekor unta baik jantan atau betina, tetapi hlal ini hanya merupakan gambaran atau ilustrasi saja.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa satu ayat ganjarannya adalah kekal dan terus menerus dan lebih tinggi nilainya walaupun dibandingkan dengan kerajaan yang meliputi tujuh benua yang lambat laun akan musnah.

Mulla Ali Qari rah.a telah mengkisahkan tentang seorang Syeikh yang saleh yang pergi ke Makkah untuk mengerjakan ibadah haji. Ketika sampai di Jeddah, beberapa orang rekannya dalam peniagaan meminta agar dia memperpanjang masa tinggalnya di tempat mereka, karena dengan kehadirannya, mereka mendapat lebih banyak keuntungan. Pada mulanya Syaikh berminat memperpanjang masa tinggalnya di situ, tetapi kemudian Syeikh bertanya kepada mereka, berapakah keuntungan maksimal yang biasa diperoleh dari hasil penjualan barang dagang? Mereka menerangkan bahwa keuntungannya tidak tentu, tetapi kenaikannya bisa mencapai seratus persen, Syeikh itu berkata, “Kalian telah bersusah payah untuk memperoleh keuntungan yang sedikit untuk keuntungan yang tidak seberapa ini saya tidak mau melepaskan shalat di Masjidi Haram yang ganjarannya akan digandakan seratus ribu kali.”

Semua orang Islam hendaknya memperhatikan dan memikirkan hal ini, untuk memperoleh keuntungan dunia yang fana ini, kadang-kadang kita mengorbankan keuntungan akhirat yang lebih besar dan kekal. (Sumber Himpunan Kitab Fadhail Amal Hal 339-341)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: