Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 11

Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 11
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Umum – Dibaca: 93 kali

Hadits Ke-22

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul disalah satu rumah-rumah Allah, kemudian mereka membaca Al-Quran dan saling membacakannya satu sama lain, melainkan diturunkan sakinah ke atas mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat rahmat mengelilingi mereka, dan Allah swt. Menyebut-nyebut mereka didepan majelis malaikat.” (Hr. Muslim dan Abu Dawud)

Hadits ini menerangkan keutamaan yang khusus pada madrasah-madrasah dan pondok-pondok pesantren yang mempunyai kemuliaan beberapa derajat. Setiap pahala yang disebutkan diatas adalah begitu tinggi nilainya, sehingga walaupun seseorang menghabiskan umurnya untuk mendapatkan semua itu, maka hal itu sangat baik baginya.

Sesungguhnya disebut-sebut didalam mahkamah Allah yang maha perkasa dan diingat dikalangan malaikat yang dicintai-Nya adalah beberapa kemurahan Allah yang tidak ada tandingannya.

Mengenai turunnya sakinah telah disebutkan didalam beberapa hadits. Walaupun para ulama hadits telah menjelaskannya dengan beberapa penafsiran. Namun didalamnya tidak ada pertentangan antara satu dengan yang lain, bahkan jika digabungkan semuanya, maka akan mengandung satu maksud.

Ali r.a menafsirkan bahwa sakinah adalah sejenis angin yang istimewa yang berwajah manusia. Allamah Suddi r.a berkata bahwa sakinah adalah nama satu mangkuk emas dalam surga yang digunakan untuk mencuci hati para nabi a.s. Sebagian lagi mengatakan bahwa sakinah adalah satu bentuk rahmat yang sangat istimewa. Tibri r.a mendukung pendapat yang mengatakan bahwa sakinah adalah ketenangan hati. Sebagian menafsirkan sakinah sebagai ketenangan jiwa, yang lainnya menafsirkan sakinah sebagai kemuliaan dan ada pula yang mengatakan sakinah sebagai malaikat-malaikat.

Hafizh Ibnu Hajar Asqalani r.a mengatakan dalam kitab Fathul Bari bahwa sakinah mengandung seluruh rahmat yang disebutkan diatas. Imam Nawawi rah.a mengatakan bahwa sakinah merupakan gabungan dari ketenangan, rahmat dan sebagainya yang turun bersama-sama para malaikat.

Disebutkan dalam Al-Quran : “Maka Allah menurunkan sakinah keatasnya (Muhammad SAW)” (Q.S At-Taubah ayat 6)

“Dialah yang menurunkan sakinah kedalam hati orang-orang mukmin.” (Q.s Al-Fath ayat 4)

“Didalamnya terdapat sakinah (ketenangan) dari tuhanmu.” (Q.S AL-Baqarah ayat 248)

Kabar gembira mengenai sakinah ini ternyata banyak sekali disebutkan dalam Al-quran dan Hadits. Dalam sebuah Hadits diriwayatkan, “Suatu ketika Ibnu Tsaubah r.a telah berjanji kepada saudaranya untuk berbuka puasa bersama, tetapi ia sampai dirumah saudaranya itu pada keesokan harinya. Ketika tuan rumah menanyakan keterlambatannya, dia pun berkata, “Jika tidak karena janji yang mesti saya tunaikan, saya tidak akan membuka rahasia yang menyebabkan saya terlambat datang ketempat ini. Dengan tak sengaja saya telah terlambat sehingga tiba waktu shalat isya, saya pikir sebaiknya saya menyempurnakan shalat witir, jangan-jangan saya akan mati malam ini. Ketika saya sedang membaca Qunut (bacaan yang biasa diucapkan dalam shalat witir), saya melihat taman surga yang kehijau-hijauan diselingi dengan berbagai jenis bunga-bungaan. Saya begitu terpesona melihatnya hingga waktu shubuh.”

ratusan peristiwa seperti ini telah terjadi pada orang-orang shaleh yang terdahulu. Peristiwa seperti ini hanya bisa terjadi kalau kita memutuskan hubungan sepenuhnya dengan segala sesuatu selain Allah dan mencurahkan seluruh perhatian kita hanya kepada-Nya saja.

Juga terdapat banyak hadits yang menyebutkan tentang bagaimana malaikat-malaikat turun dan mengelilingi orang yang membaca Al-quran sebuah kisah mengenai Usaid bin Hudhair r.a telah diceritakan dalam banyak hadits, “Ketika beliau sedang membaca Al-Quran, beliau melihat sejenis awan meliputi dirinya. Rasulullah saw. Memberitahukan bahwa awan itu adalah malaikat-malaikat yang datang berkumpul untuk mendengarkan bacaan Al-quran yang dibacakannya. Karena begitu banyaknya malaikat tersebut, sehingga mereka nampak seperti awan.

Suatu ketika seorang sahabat merasakan sejenis awan telah datang menutupinya. Rasulullah saw. Memberitahukan bahwa itu adalah sakinah (rahmat) yang diturunkan karena bacaan Al-Qurannya.

Dalam kitab Sahih Muslim, hadits ini ditulis dengan begitu lengkap, dan kalimat terakhirnya berbunyi : “Seseorang yang amalan maksiatnya menjauhkan dirinya dari rahmat Allah, maka ketinggian keturunannya atau kemuliaan keluarganya tidak akan mendekatkan dirinya kepada rahmat-Nya.”

Dengan demikian, seseorang walaupun dari keturunan yang baik-baik tetapi karena ia membiasakan dirinya dalam keingkaran dan kemaksiatan, tidak dapat disamakan dengan seorang muslim dari keturunan rendah dan hina tetapi paling takut kepada Allah.

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah yang paling bertakwa diantara kalian.” (Qs. Al-Hujurat ayat 13)

Hadits ke 23

Dari Abu Dzar r.a berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya tidak ada yang lebih utama bagi kalian untuk kembali (mendekatkan diri) kepada Allah melainkan dengan sesuatu yang keluar dari-Nya, yakni Al-Quran.” (Hr. Hakim)

Banyak Hadits yang menerangkan bahwa tidak ada satu pun cara yang lebih utama yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah selain Al-Quran. Imam Ahmad bin Hambal r.a berkata, “Saya telah bermimpi seolah-olah saya melihat Allah dalam mimpi itu, lalu saya bertanya kepada-Nya, apakah yang terbaik untuk menghampirinya. Allah menjawab, “Wahai Ahmad, adalah melalui kalam-Ku (Al-Quran).” Saya bertanya, “Apakah membacanya dengan pemahaman ataukah membaca tanpa memahami maksudnya?” Allah menjawab, “Baik paham atau tidak paham maksudnya, keduanya adalah cara untuk mendekati-Ku.”

Hadits ini dengan jelas menyebutkan bahwa membaca Al-quran adalah cara yang paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hal ini pun telah diterangkan oleh Maulana Syah Abdul Aziz Dehlawi nawwarrallaahu marqadahu didalam tafsirnya. Dari penafsirannya, beliau menyimpulkan bahwa pokok utama dari sulukillah (menempuh suatu jalan kesufian untuk mendekatkan diri kepada Allah) yang juga dikenal dengan martabat ihsan (Istilah dari sifat merasa bahwa Allah swt. Selalu hadir didalam hati), dapat dicapai melalui tiga cara :

1.

Tashawwur (dalam istilah syariat dikenal sebagai tafakkur dan dalam istilah kesufian dikenal dengan muraqqabah).
2.

Dzikir Lisani (mengingat Allah dengan perkataan untuk memuji-Nya sambil berpikir berulang-ulang).
3.

Tilawah (Membaca Al-Quran)

Cara yang pertama sebenarnya adalah dzikir qalbi (dzikir dengan hati). Pada dasarnya dzikir dilakukan dengan dua cara : pertama, dzikir secara umum baik dengan lisan atau dengan hati; kedua, dzikir dengan tilawah quran. Yang dimaksud dzikir disini ialah menumpukkan ingatan hanya kepada Allah dengan mengulang-ngulang kalimat yang ada hubungannya dengan Allah yang maha suci sehingga menghasilkan mudrikah yaitu ketawajuhan kepada Dzat yang maha kuasa. Juga menimbulkan perasaan bahwa yang diingat itu berada dihadapan kita. Keadaan seperti ini jika terus-menerus dapat menghasilkan ma’iyah (kebersamaan) seperti diterangkan dalam hadits berikut :

“Hamba-Ku yang senantiasa mendekati Aku dengan ibadah-ibadah nafil (sunnat), sehingga Aku mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengannya ia melihat, aku menjadi tangannya, yang dengannya ia memegang dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan.”

Apabila seorang hamba banyak beribadah dan menjadi orang yang dekat kepada Allah, maka Allah menjadi penjaga bagi seluruh anggota tubuhnya. Matanya, telinganya dan yang lainnya semuanya akan tunduk mengikuti keinginan Allah ta’ala. Didalam hadits tersebut disebutkan bahwa yang diperbanyak adalah ibadah-ibadah nafil, dikatakan demikian karena ibadah fardhu adalah kewajiban yang telah ditetapkan dan harus terus menerus dikerjakan serta tidak boleh ditambah-tambah. Karena itu sangat penting bagi kita untuk memperbanyak ibadah nafil karena apabila ibadah fardhu ditambah dengan ibadah nafil akan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah.

Akan tetapi, cara taqarrub (pendekatan) seperti ini hanya ditujukan untuk mendekati Dzat yang maha suci dan pengasih yaitu Allah SWT. Dan tidak bisa diterapkan pada manusia, karena tidak mungkin mendapatkan kasih sayang seseorang hanya dengan mengingat dan menyebut namanya berkali-kali. Cara taqarrub seperti ini dapat ditujukan kepada Allah karena dua sebab: pertama, Allah maha mengetahui, dengan demikian Dia memahami dzikir dari orang yang berdzikir, baik dengan lidahnya atau dengan hatinya, tidak dibatasi oleh bahasa, waktu dan tempat; Kedua, Allah maha berkuasa dalam memahami dan memenuhi keinginan orang-orang yang mengingati-Nya, yang dinamakan dunuw (pendekatan), tadalli (mendekati), nuzul (turun) dan qurb (penghampiran). Sedangkan sifat-sifat ini hanya dimiliki oleh Allah Swt. Hadits Qudsi dibawah ini dapat memperkuat pernyataan diatas : “Barang siapa mendekati-Ku sejengkal, maka Aku mendekatinya sehasta”. (Al-Hadits)

Hal ini hanyalah sebagai perumpaan. Karena sesungguhnya Allah yang maha suci dan maha agung adalah maha kuasa daripada hanya sekedar berjalan atau berlari. Hal ini bermaksud, bahwa kesungguhan Allah untuk memberi pertolongan kepada orang-orang yang selalu mengingat dan mencari-Nya adalah melebihi keinginan dan usaha mereka. Mereka layak menerima kasih sayang Allah karena keteguhan hati mereka yang mengingat Allah terus menerus dapat mendatangkan hasil berupa nikmat-nikmat dari Allah swt.

Al-quran seluruhnya adalah dzikir kepada Allah, karena tidak ada satu ayat pun dari Al-quran yang tidak ada hubungannya dengan dzikir dan perhatian kepada Allah. Hal ini berarti Al-quran memiliki sifat-sifat dzikir yang diterangkan diatas.

Ada lagi satu kelebihan khusus yang terdapat pada Al-quran sehingga meningkatkan pendekatan diri kepada Allah. Dikatakan bahwa setiap ucapan menggambarkan nilai dan tingkah laku orang yang mengucapkannya. Misalnya, apabila seseorang membaca satu syair tentang orang jahat dan pendosa, maka akan mendatangkan kesan buruk pada hati pembacanya, tetapi apabila membaca syair tentang orang yang takwa, maka akan mendatangkan kesan mulia pada hati pembacanya. Karena itu sangat beralasan jika dikatakan, bahwa mengkaji ilmu logika dan falsafah terlalu banyak akan membawa seseorang kepada bangga diri dan sombong, sedangkan banyak mengkaji hadits secara mendalam dapat membawa seseorang kepada sifat-sifat tawadhu. Oleh karena itu, walaupun dari segi bahasa, bahasa inggris dan bahasa parsi adalah sama, tetapi karena adanya kepercayaan dan sikap pengarang yang berlainan, maka hal ini mendatangkan kesan yang berbeda kepada pembacanya.

Singkatnya, bahwa setiap bacaan itu mempengaruhi orang yang membacanya. Demikian pula membaca Al-Quran yang dilakukan berulang kali dapat mempengaruhi pembacanya dengan sifat-sifat atau nilai-nilai penciptanya, yang merupakan sumber ayat-ayat Al-Quran tersebut. Untuk dapat mendekati seorang pengarang, maka seseorang harus selalu membaca pikiran-pikiran pengarang itu, ia pun harus mencintai dan menyukai pengarang tersebut. Demikian pula seorang pembaca Al-quran, dengan cara itu ia akan lebih mendekatkan dirinya kepada Allah, maka sudah semestinya ia menerima rahmat yang tak terhingga dari Allah swt.. Semoga Allah merahmati kita semua dengan nikmat-nikmat-Nya.

* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 10
* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 9
* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 8
* Bagaimana menjadi wali bag. 2
* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 7

0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar

(Masukkan 6 kode diatas)

Sekilas Info

* luangkan waktu tuk beribadah kepada-Ku. Nanti Ku penuhi tanganmu dengan rizki.
* luangkan waktu tuk beribadah kepada-Ku. Nanti Ku penuhi hatimu dengan kekayaan.
* Jika seseorang memperhatikanmu hanya sekedar basa basi, maka tinggalkanlah dan jangan kau sesali
* Wahai dunia, barangsiapa melayanimu, jadikanlah ia pelayanmu. Hadits Qudsi
* jangan kalian menjauhkan diri dari-Ku. Nanti hatimu penuh kemiskinan dan tanganmu sarat kesibukan
* luangkan waktu tuk beribadah kepada-Ku. Nanti Ku penuhi tanganmu dengan rizki.

Statistik User

068684
Pengunjung hari ini : 49
Total pengunjung : 22192
Hits hari ini : 154
Total Hits : 68684
Pengunjung Online : 1

Polling

Apa Majlis Favorit Anda ?

Rasulullah SAW
Ahbabul Musthofa
Nurul Musthofa

Lihat Hasil Poling

Special Thank’s To Mr. Lukmanul Hakim (Lokomedia) for him CMS. Good Luck For Him.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: