Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 10

Bulbul Mukhtar

*
* Meraih Ridho Allah SWT dan Syafa’at Rasulullah SAW

*
* Beranda »
* Profil »
* Agenda »
* Artikel »
o » Fiqih
o » Tasawuf
o » Kisah Islami
o » Profil Ulama
o » Umum
* Download »
* Galeri Foto »
* Hubungi Kami »
*
*

31 Desember 2011, 11:16:58
Rabu, 19 Oktober 2011 – 20:03:32 WIB
Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 10
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Umum – Dibaca: 83 kali

Hadits Ke-19

Dari abdulllah Ibnu Umar r.a meriwayatkan, “Seseungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana membersihkannya?” Rasulullah saw bersabda, “ Memperbanyak mengingat maut dan membaca al Quran.”(Hr.Baihaqi)

Banyak melakukan dosa dan lalai dari mengingat Allah dapat menyebabkan hati menjadi berkarat sebagaimana besi bila terkena air. Membaca al Quran dan mengingat maut akan menjadikan hati ini bersinar kembali. Hati itu bagaikan cermin, semakin dibersihkan hati itu maka semakin terpancar darinya cahaya ma’rifat (mengenal) kepada Allah.

Sebaliknya, lebih lama kita mengikuti hawa nafsu dan perbuatan-perbuatan syetan, maka akan semakin jauh dari mengenal Allah. Maka untuk membersihkan hati ini, banyak Syeikh (guru tasawuf) yang mengarahkan murid-muridnya untuk mempergunakan waktu mereka dengan upacara-upacara kerohanian, berzuhud, dan melatih dari dengan dzikir-dzikir tertentu untuk mengingat Allah.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa jika seseorang melakukan satu dosa, maka satu titik hitam akan semakin melekat dihatinya. Jika ia bertaubat dengan sebenar-benarnya, maka titik hitam itu akan hilang, tetapi jika dia melakukan dosa yang kedua, titik hitam yang kedua akan melekat, dan jika terus menerus melakukan dosa, maka titk hitam itu akan semakin banyak sehingga hati menjadi hitam keseluruhannya. Kalau sudah demikian, hati menjadi sangat sukar untuk condong kepada kebaikan bahkan akan selalu condong kepada kemaksiatan. Semoga Allah memelihara kita dari hal yang demikian.

Mengenai hal ini , Allah swt berfirman:“ Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka lakukan itu telah menyebabkan kekaratan pada hati mereka. (Qs.al Muthaffifin ayat 14)

Rasulullah saw bersabda, “Saya meninggalkan dua nasihat untuk kamu sekalian; satu yang berbicara dan satu lagi yang diam. Yang berbicara ialah al Quran yang mulia dan yang diam adalah mengingat maut.” Bagi orang yang memahami betapa pentingnya nasihat-nasihat ini, maka ia akan menerimanya. Sebaliknya, orang yang beranggapan bahwa agama tidak berguna dan hanya menjadi penghalang bagi kemajuan duniawi, tentu ia tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan nasihat rohani tersebut.

Hasan Bashri rah.a berkata, “Orang-orang zaman dahulu menyakini bahwa al Quran yang mulia itu adalah perintah Allah swt, mereka memikirkannya sepanjang malam dan mengamalkannya diwaktu siang. Sedangkan kita pada hari ini, walaupun bersungguh-sungguh mempelajari bacaan dan huruf-hurufnya , tetapi tidak menganggap sebagai perintah Allah swt dan tidak pula memikirkannya.

Hadits ke -20

Dari Aisyah r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Seseungguhnya tiap sesuatu itu mempunyai kemuliaan yang mana mereka merasa bangga dengannya. Dan sesungguhnya yang menjadi kebanggaan dan kemuliaan umatku adalah al Quran.” (Hr.Abu Nu’aim- Al Hilyah)

Banyak orang yang membangga-banggakan kebasaran dan kemuliaan nenek moyang serta keluarganya. Padahal puncak kebanggaan bagi umat ini adalah al Quran, yaitu dengan membacanya,menghafalnya, mengajarkannya, dan beramal dengannya, bahkan apa saja yang berkaitan dengan al Quran maka patut menjadi kehormatan. Al Quran adalah firman Allah Yang Maha Pengasih. Tidak ada kehormatan di dunia ini bagaimanapun besarnya akan lenyap cepat atau lambat, sebaliknya kemegahan dan kemuliaan al Quran adalah kekal selamanya dan tidak akan habis. Bahkan bagian-bagian kecil dari al Quran patut kita banggakan, misalnya susunan kata yang sangat indah, paduan kata-kata yang mempesona, penyesuaian kata, hubungan antar kalimat, kebenaran ramalan atas sesuatu di masa yang akan datang, kisah-kisah manusia yang tidak dapat kita ingkari, misalnya tentang kisah tentang kaum Yahudi yang menyatakan cintanya kepada Allah tetapi tidak mau mati. Orang yang mendengarkannya pasti akan terpesona dengan bacaannya, dan yang membacanya tidak akan merasa jemu. Adalah keyataan, bagaimanapun indahnya sepucuk surat dari orang yang kita cintai, tetapi jika kita baca berulang-ulang lama-lama pasti akan bosan juga. Kalau tidak pada kali yang kesepuluh, maka pada kali kedua puluh atau pada kali ke empat puluh. Sebaliknya, jika kita menghafal satu ayat dari al Quran, kita akan membacanya sampai ratusan kali sepanjang umur kita, dan kita tidak akan merasa jemu dan letih. Jika ada sesuatu yang menghalangi, hal itu hanya sementara saja. Pada kenyataannya, lebih banyak kita membaca al Quran maka akan lebih banyak ditemui keindahan dan kepuasan. Walaupun sebagian kecil saja yang kita nilai, kita akan memujinya, apalagi jika seluruhnya pastilah akan mendapatkan kepuasan yang sempurna dan megah.

Marilah kita lihat diri kita sendiri, berapa banyak orang yang merasa bangga dengan membaca al Quran? Adakah seorang hafizh mendapat penghormatan yang besar dari kita? Malangnya, penghormatan kita hanya berdasarkan ijazah dan sertifikat serta pangkat, pada kesombongan dan kecongkakan dunia dan pada harta kekayaan yang pasti akan kita tinggalkan di belakang hari jika maut menjemput. Kepada Allahlah kami mengadu.

Hadits ke -21

Dari Abu Dzar r.a meriwayatkan, “Saya berkata, “Wahai Rasulullah, berilah nasihat kepada saya!Rasulullah saw bersabda, ‘Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah swt karena takwa adalah akar dari setiap urusan.’ saya berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah tambahkan lagi nasihat untuk saya!’ Rasulullahpun bersbda, ‘Teruskanlah membaca al Quran karena al quran adalah nur untuk (kehidupan) kamu diatas muka bumi dan bekal yang disimpan dilangit ( untuk hari akhirat).’” (Hr.Ibnu Hibban).

Pada hakikatnya takwa adalah akar bagi semua amal kebaikan. Apabila hati seseorang dipenuhi rasa takut kepada Allah, maka dia tidak akan melakukan dosa apa pun dan tidak akan mengalami kesusahan. Allah swt berfirman:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari semua kesulitan), dan dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.” (Qs.ath Thalaq ayat 2-3)

Dalam beberapa hadits yang lalu telah disebutkan rahasia-rahasia keberkahan al Qura.Dalam kitab syarah ihya, Abu Nu’aim rah.a telah meriwayatkan sebuah hadits dari Basith rah.a bahwa Rasulullah saw. Bersabda’ “Rumah-rumah yang dibacakan al Quran didalamnya akan memberikan cahaya kepada penghuni langit seperti bintang memberikan cahaya kepada penghuni bumi.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab at Targhib yang diringkaas dari satu hadits panjang oleh Mulla Ali Qari rah.a dengan panjang lebar kemudian dipersingkat oleh Suyuti rah.a Walaupun sebagian dari hadits tersebut sudah cukup untuk maksud buku ini, tetapi keseluruhan dari hadistt ini berisi banyak hal yang sangat penting dan berfaedah. Oleh karena itu akan saya terangkan dibawah ini.

Abu Dzar Al Ghifari r.a berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang jumlah kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah swt. “ Rasulullah saw menjawab, “Seratus Shuhuf (lembaran-lembaran) dan empat buah kitab. Lima puluh shuhuf diturunkan kepada Nabi Syaits a.s tiga puluh shuhuf kepada Nabi Idris a.s sepuluh shuhuf kepada Nabi Ibrahim a.s dan sepuluh shuhuf kepada Nabi Musa a.s sebelum beliau menerima taurat sedangkan empat buah kitab suci yang diturunkan oleh Allah swt adalah Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran”

Abu Dzar r.a menyatakan isi kandungan yang ada dalam shuhuf yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim a.s Rasulullah saw menjawab, “Kitab-kitab itu berisi peribahasan-peribahasan, misalnya:

“Wahai raja yang kuat dan angkuh! Saya tidak mengangkat kamu untuk mengumpulkan harta, tetapi untuk menghalangi pengaduan orang-orang yang teraniaya yang sampai kepada-Ku dengan bantuanmu kepada mereka lebih dahulu, Karena saya tidak menolak pengaduan orang-orang yang teraniaya, walaupun ia seorang yang kafir.”

Penulis menyatakan, “Apabila Raulullah saw melantik sahabatnya amir atau hakim, maka sebagai tambahan nasehat, Rasulullah saw mengingatkan :

“Takutilah doa orang-orang yang dizhalimi karena antara dia dengan Allah tidak ada penghalang.”

peribahasa parsi berbunyi: “Waspadahilah kesakitan orang yang teraniaya apabila dia berdoa”

Dalam Shuhuf ini disebutkan juga tentang kewajiban bagi orang yang sehat akalnya untuk membagi waktunya kepada tiga bagian. Satu bagian untuk menyembah Tuhannya, satu bagian untuk menghisab dirinya dengan memikirkan amal perbuatannya apakah baik atau buruk, dan satu bagian lagi untuk mencari nafkah yang halal. Juga menjadi tanggung jawab seseorang yang berakal sehat memperhatikan waktu-waktunya dan berfikir secara mendalam untuk memperbaiki keadaan dan menahan lidahnya dari segala ucapan sia-sia atau tidak berfaedah. Karena barangsiapa menjaga ucapannya, lidahnya tidak akan mengatakan yang tidak berfaedah.

Seorang yang berakal sehat janganlah melakukan safar kecuali untuk tiga tujuan, yaitu mencari bekal untuk kehidupan akhirat, untuk mencari nafkah, atau mencari tempat istirahat yang dibenarkan.

Abu Dzar r.a kemudian bertanya tentang isi kandungan shuhuf yang diturunkan kepada nabi Musa a.s Rasulullah saw menjawab, “Semuanya berisi peringatan-peringatan, misalnya:“Saya heran terhadap orang yang mencari kesenangan sedangkan ia yakin tentang kepastian maut. (Apabila seseorang yang mengetahui bahwa dia akan dihukum gantung dan segera diiring ke tiang gantungan, maka ia tidak akan gembira dengan hal apapun). Saya heran terhadap seseorang yang tertawa sedangkan ia yakin dengan kematiannya. Saya heran dengan seseorang yang mengetahui bahwa dunia ini akan hancur dan berubah, tetapi ia masih mencari kesenangan darinya. Saya heran terhadap orang yang menyakini adanya takdir, tetapi masih berduka cita dan bersusah hati. Saya heran terhadap orang yang menyakini bahwa tiada lama lagi dia akan dihisab, tetapi masih belum melakukan amalan-amalan kebaikan.”

Abu Dzar r.a berkata lagi, “Ya Rasulullah, berilah saya nasihat!” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Tanamkanlah dalam hatimu rasa takut kepada Allah swt. Karena ia adalah dasar akal dari segala kebaikan.” Abu Dzar r.a memohon nasehat lagi, kemudian Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah tetap membaca al Quran dan mengingat Allah, karena ia adalah cahaya dalam kehidupan di dunia dan diakhirat.” Abu Dzar meminta nasehat lagi, maka Rasulullah pun bersabda, “Janganlah terlalu banyak tertawa, karena hati akan menjadi mati dan wajah akan kehilangan sarinya (sesuatu yang merugikan lahiriyah dan batiniyah).” Abu Dzar r.a meminta nasehat lagi dan Rasulullah saw meneruskan sabdanya, “Teruskan jihad karena jihad adalah rahbaniyah umatku.”( Rahban adalah bentuk jamak dari rahib, yaitu para pengikut nabi-nabi terdahulu,mereka memutuskan hubungan dengan kehidupan dunia semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah). Abu Dzar r.a meminta nasihat lagi dan Rasulullah saw bersabda, “Bergaulah dengan orang-orang miskin, jagalah hubungan baik dengan mereka, dan duduklah bersama-sama mereka.” Abu Dzar meminta nasihat lagi, kemudian Rasulullah saw bersabda, “Pandanglah orang yang lebih rendah darimu, dengan ini engkau akan mensyukuri nikmat Allah, dan jangan memandang orang yang lebih tinggi darimu, dengan ini kamu tidak akan kufur atas nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. “Abu Dzar r.a meminta lagi nasihat, maka Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah keburukanmu sebagai penghalang dari melihat keburukan orang lain dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain,karena hal ini akan menyebabkan engkau melakukan keburukan tersebut. Cukuplah sebagai bukti dari keburukanmu ketika kamu melihat orang lain melakukan keburukan tersebut, karena keburukan yang terdapat pada orang lain itu boleh jadi terdapat juga pada dirimu sedangkan kamu tidak menyadarinya, “Setelah itu Rasulullah saw menepuk dada Abu Dzar r.a dengan perasaan kasih sayang sambil bersabda, “Tidak ada kebijaksanaan yang lebih utama daripada sikap hati-hati, tidak ada kesalehan yang lebih utama daripada menahan diri dari perkataan-perkataan yang haram, dan tidak ada kemulian yang lebih utama dari pada sopan santun.” Terjemahan ini hanyalah mafhum dan ringkasan dari hadits di atas sedangkan matan haditsnya tidak seperti ini.(Sumber Kitab Himpunan Fadhail Amal Hal 363-366)

* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 9
* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 8
* Bagaimana menjadi wali bag. 2
* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 7
* Empat Puluh Hadits Tentang Fadhilah Al-Quran Bag. 6

0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar

(Masukkan 6 kode diatas)

Sekilas Info

* luangkan waktu tuk beribadah kepada-Ku. Nanti Ku penuhi tanganmu dengan rizki.
* luangkan waktu tuk beribadah kepada-Ku. Nanti Ku penuhi hatimu dengan kekayaan.
* Jika seseorang memperhatikanmu hanya sekedar basa basi, maka tinggalkanlah dan jangan kau sesali
* Wahai dunia, barangsiapa melayanimu, jadikanlah ia pelayanmu. Hadits Qudsi
* jangan kalian menjauhkan diri dari-Ku. Nanti hatimu penuh kemiskinan dan tanganmu sarat kesibukan

Statistik User

068682
Pengunjung hari ini : 49
Total pengunjung : 22192
Hits hari ini : 152
Total Hits : 68682
Pengunjung Online : 1

Polling

Apa Majlis Favorit Anda ?

Rasulullah SAW
Ahbabul Musthofa
Nurul Musthofa

Lihat Hasil Poling

Special Thank’s To Mr. Lukmanul Hakim (Lokomedia) for him CMS. Good Luck For Him.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: