Blog kutbah jum’at baik

Leave a comment »

4 kaidah keimanan

=================================================================================

[ Qowa’idul Arba’ Bagian 1 ]: Muqaddimah

 
Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

بسم الله الرحمن الرحيم

أسأل الله الكريم ربّ العرش العظيم أن يتولاّك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مبارَكـًا أينما كنت، وأن يجعلك ممّن إذا أُعطيَ شكر، وإذا ابتُلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإنّ هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.
اعلم أرشدك الله لطاعته: أن الحنيفيّة ملّة إبراهيم: أن تعبد الله مخلصـًا له الدين كما قال تعالى ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ﴾[الذاريات:56]. فإذا عرفت أنّ الله خلقك لعبادته فاعلم: أنّ العبادة لا تسمّى عبادة إلا مع التوحيد، كما أنّ الصلاة لا تسمّى صلاة إلى مع الطهارة، فإذا دخل الشرك في العبادة فسدتْ كالحدَث إذا دخل في الطهارة. فإذا عرفتَ أن الشرك إذا خالط العبادة أفسدها وأحبط العمل وصار صاحبه من الخالدين في النار عرفتَ أنّ أهمّ ما عليك: معرفة ذلك، لعلّ الله أن يخلّصك من هذه الشَّبَكة، وهي الشرك بالله الذي قال الله فيه: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾[النساء:116], وذلك بمعرفة أربع قواعد ذكرها الله تعالى في كتابه.


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah, Rabbnya Arsy yang besar, agar Dia menjadikan anda sebagai wali-Nya di dunia dan di akhirat, menjadikan anda sebagai orang yang diberkahi dimanapun anda berada dan menjadikan anda termasuk golongan orang-orang yang jika diberikan sesuatu maka dia bersyukur, jika ditimpakan ujian maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka segera meminta ampunan. Karena ketiga sifat ini merupakan tanda kebahagiaan hidup seseorang.
Ketahuilah ?semoga Allah Ta’ala memberikan tuntunan kepada anda-, sesunguhnya al-hanifiah adalah agamanya Nabi Ibrahim: Yaitu anda beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah Ta?ala firmankan: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku?. (QS. Adz-Dzariyaat: 56).
Dan bila Anda telah mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah: Bahwa  ibadah tidak teranggap dia ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah teranggap sebagai shalat kecuali jika disertai dengan bersuci. Karenanya jika ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadats.
Kalau anda sudah mengetahui bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri, bahwa hal itu menyebabkan terhapusnya semua amalan pelakunya (musyrik) dan menyebabkan pelakunya menjadi orang-orang yang kekal di dalam api neraka.
Kalau anda sudah mengetahui semua perkara di atas, niscaya anda akan mengetahui bahwa perkara yang terpenting untuk anda ketahui adalah mempelajari masalah ini (kesyirikan), semoga dengannya Allah berkenan membebaskan anda dari jaring-jaring kerusakan ini. Yaitu kesyirikan kepada Allah Ta’ala, yang Allah Ta’ala telah berfirman tentangnya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’ : 116)
Pengetahuan akan hal ini (kesyirikan) akan mampu diraih dengan memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam Kitab-Nya.

[ Qowa’idul Arba’ Bagian 2 ]: Kaidah Pertama

 
Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
القاعدة الأولى

أن تعلم أنّ الكفّار الذين قاتلهم رسول الله يُقِرُّون بأنّ الله تعالى هو الخالِق المدبِّر، وأنّ ذلك لم يُدْخِلْهم في الإسلام، والدليل: قوله تعالى﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾[يونس:31].

Kaidah pertama:
Anda harus meyakini bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah Ta?ala adalah Pencipta, dan yang mengatur segala urusan. Meskipun demikian, hal itu tidaklah lantas menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa [kepada-Nya]?. (QS. Yunus: 31).

[ Qowa’idul Arba’ Bagian 3 ]: Kaidah Kedua

 
Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
القاعدة الثانية
 
أنّهم يقولون: ما دعوناهم وتوجّهنا إليهم إلا لطلب القُرْبة والشفاعة، فدليل القُربة قوله تعالى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3].
ودليل الشفاعة قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]،
والشفاعة شفاعتان: شفاعة منفيّة وشفاعة مثبَتة: 
فالشفاعة المنفيّة ما كانت تٌطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلاّ الله، والدليل: قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].
والشفاعة المثبَتة هي: التي تُطلب من الله، والشّافع مُكْرَمٌ بالشفاعة، والمشفوع له: من رضيَ اللهُ قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255].
Kaidah kedua:
Mereka (musyrikin) berkata: “Kami tidak berdo’a dan tidak menyerahkan ibadah kepada mereka (sembahan selain Allah) kecuali untuk meminta qurbah (kedekatan kepada Allah) dan syafaat (mereka nantinya akan memberi syafa’at kepada kami, pent.)
Dalil tentang pendekatan diri adalah firman Allah Ta’ala:
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (QS. Az-Zumar: 3).
Adapun dalil tentang syafa’at adalah firman Allah Ta’ala:
“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata: “Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah:”Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]?. (QS. Yunus: 18).
Syafa’at itu ada 2 macam:
1. Syafa’at manfiyah (yang ditolak keberadaannya).
2. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).
Syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, pada perkara yang tidak seorangpun sanggup memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta?ala:
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim?. (QS. Al-Baqarah : 254).
Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang diminta dari Allah Subhanahu wata’ala. Makhluk yang memberikan syafa’at itu dimuliakan (oleh Allah) dengan (kemampuan memberikan) syafa’at, sedangkan yang akan diberikan syafa’at adalah orang yang Allah ridhai baik ucapan maupun perbuatannya, itupun setelah Allah mengizinkan. Sebagaimana dalam firman Allah Ta?ala: “Siapakah yang mampu memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?”. (QS. Al-Baqarah : 255).

[ Qowa’idul Arba’ Bagian 4 ]: Kaidah Ketiga

 
Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

القاعدة الثالثة

أنّ النبي ظهر على أُناسٍ متفرّقين في عباداتهم منهم مَن يعبُد الملائكة، ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين، ومنهم من يعبد الأحجار والأشجار، ومنهم مَن يعبد الشمس والقمر، وقاتلهم رسول الله ولم يفرِّق بينهم، والدليل قوله تعالى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193].
ودليل الشمس والقمر قوله تعالى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37]. 
ودليل الملائكة قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾[آل عمران:80]. 
ودليل الأنبياء قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116].
ودليل الصالحين قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57].
ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى(19)وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20].
وحديث أبي واقدٍ الليثي قال: خرجنا مع النبي إلى حُنين ونحنُ حدثاء عهدٍ بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها: ذات أنواط، فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله إجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط… الحديث.

Kaidah ketiga:
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang beraneka ragam dalam cara penyembahan mereka. Di antara mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, di antara mereka ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan serta di antara mereka ada pula yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta?ala:  “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya”. (QS. Al-Baqarah : 193).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala:  “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (QS. Fushilat : 37).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) malaikat adalah firman Allah Ta’ala:  “Dan dia (Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan-sembahan”. (QS. Ali Imran: 80).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) Nabi adalah firman Allah Ta’ala:
“Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al-Maidah : 116).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) orang-orang shaleh adalah firman Allah Ta’ala:  ” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.? (QS. Al-Isra` : 57).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala: ?Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Al-Uzza, serta Manat yang ketiga.? (QS. An-Najm: 19-20)
Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata:  “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kekafiran (muallaf). Sementara itu, orang-orang musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka bisa berdiam (i?tikaf) di sisinya dan mereka bisa menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari berkah sebelum perang, pent.). Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (Yang mempunyai tali-tali untuk menggantung). Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu [sebagian dari] kami mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (musyrikin) mempunyai Dzatu Anwath?.? sampai akhir hadits.

[ Qowa’idul Arba’ Bagian 5 ]: Kaidah Keempat

 
Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

القاعدة الرابعة

أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة. والدليل قوله تعالى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65].

Kaidah keempat:
Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita (masa Syaikh, pent.) lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (masa Nabi, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit.
Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta?ala:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. ” (QS. Al-Ankabut: 65).
Sumber :

Leave a comment »

77 cabang iman mnt Albaihaqi

77 Karakter Manusia Unggul dalam Kitab Mukhtashar Syu’abul Iman

Bismillahirrahmanirrahim

Diantara khazanah klasik yang sangat menarik adalah karya-karya yang memaparkan karakter manusia-manusia unggul. Tentu saja, yang dimaksud disini adalah unggul menurut ukuran dan kriteria Islam, bukan peradaban industri yang berpijak pada materialisme semata. Salah satu karya paling komprehensif di bidang ini adalah al-Jami’ li Syu’abi al-Iman, karya al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa al-Khasrujardi al-Baihaqi (lh. 384 H, w. 458 H), atau kita biasa menyebutnya Imam al-Baihaqi saja. Karya ini merupakan salah satu kutub al-mutun atau literatur induk di bidang hadits, karena isi kandungannya yang sangat luar biasa dan seringkali memiliki jalur-jalur periwayatan tersendiri yang berbeda dengan karya lain. Dalam Ilmu Hadits, perbedaan jalur ini sangat penting, karena bisa dipergunakan untuk memeriksa otentisitas riwayat melalui metode perbandingan.
Judul kitab ini berarti “Kumpulan Cabang-cabang Iman”, yang didasarkan pada hadits riwayat Bukhari-Muslim yang menyatakan bahwa iman memiliki cabang lebih dari 60, atau lebih dari 70. Imam al-Baihaqi, berbekal penguasaan beliau terhadap tafsir, hadits, atsar, dan ilmu-ilmu lainnya, kemudian menelusuri cabang-cabang-cabang tersebut dan mengumpulkannya dalam sebuah karya besar. Dari penelusuran tersebut, beliau menemukan 77 cabang, yang seluruhnya didukung oleh ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, dan atsar. Ketika menyadari kehebatan karya ini, Ustadz Muhaimin Iqbal, pemimpin Gerai Dinar, pernah menyebutnnya sebagai “77 Habits : More Then Just Highly Effective People…” (77 Kebiasaan: Lebih dari Sekedar Orang-orang yang Sangat Efektif). Beliau merujuk pada buku-buku Steven R. Covey yang berjudul The Seven Habits of Highly Effective People, dan kemudian dilengkapi oleh The 8th Habits.
Hanya saja, bagi pembaca modern – apalagi kaum awam – karya Imam al-Baihaqi ini memiliki “kekurangan”, yakni ukurannya yang sangat tebal dan metode penyitiran sanad-nya yang sangat detil. Sebagai gambaran, salah satu edisi modern kitab ini diterbitkan pada tahun 2003 oleh Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, dalam 14 juz (termasuk indeks), dengan ketebalan total diatas 7.820 halaman. Menurut penghitungan para editornya, kitab ini memuat tidak kurang dari 10.752 riwayat, dari berbagai jenis dan tingkatan. Selain itu, betapa sering beliau menyitir tiga atau empat baris rangkaian isnad, padahal riwayat yang dinukil hanya beberapa kata saja, atau sama dengan riwayat sebelumnya. Tentu saja, nilai-nilai agung dalam karya ini seperti berada diatas menara gading, indah namun tidak membumi. Bahkan, hampir bisa dipastikan, sangat sedikit diantara kita yang memiliki copy naskahnya, apalagi yang telah tuntas menelaahnya.
Kenyataan ini disadari sepenuhnya oleh al-Qadhi Abul Ma’ali ‘Umar bin Sa’duddin Abul Qasim ‘Abdurrahman bin Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad bin Muhammad al-Qazwini asy-Syafi’i (lh. 653 H, w. 699 H). Maka, beliau pun memburu keberadaan naskah asli kitab tersebut, mengambil bacaannya dari dua jalur, lalu membawanya ke Damaskus. Setelah tuntas mengkaji kitab yang – pada masa itu – dicatat dalam 6 jilid besar, beliau bertekad meringkasnya, sebab: “…saya mendapati (cabang-cang iman) itu terpencar-pencar pada seluruh kitab. Beliau tidak mengumpulkannya terlebih dahulu pada kata pengantar dan tidak pula pada jilid pertama. Beliau langsung berfokus untuk merinci penjelasan cabang-cabang iman itu, namun beliau memencarnya di seluruh kitab. Maka, didorong oleh kebutuhan, saya pun mengumpulkannya dan meringkasnya sebagai pokok-pokok persoalan. Saya mencukupkan diri dengan menyitir satu ayat dari Kitabullah, atau satu hadits yang paling shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam beberapa cabang iman, terkadang saya menambahkan satu atau beberapa ayat; atau satu hadits; atau beberapa kalimat; satu atau beberapa kisah; satu atau beberapa bait syair; yang tidak disebutkan oleh Imam al-Baihaqi. Saya telah membaginya menjadi 77 bab.”
Kitab terakhir ini diberi judul Mukhtashar Syu’abul Iman, dan menjadi intisari luar biasa dari karya lain yang juga luar biasa. Bayangkan, kitab setebal lebih dari 7.820 halaman berhasil diringkas menjadi 176 halaman saja (sudah termasuk pengantar, indeks, apendiks, dan daftar isi). Menurut hemat kami, peringkasan ini samasekali tidak menghilangkan tujuan utama penyusunannya! Salah satu edisi modern dari karya ini diterbitkan oleh Dar Ibnu Katsir, Damaskus-Beirut, tahun 1985, yang diedit dan di-takhrij oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Arna’uth.
Tentu saja, kitab Mukhtashar ini tidak lagi memuat deretan-deretan sanad yang panjang, namun cukup disitir nama Sahabat dan sumber aslinya dari kitab induk hadits tertentu. Syaikh al-Arna’uth kemudian merujukkan lokasi dari sumber-sumber asli tersebut, dan menyebutkan status sanad-nya, sehingga nilai ilmiahnya semakin tinggi tanpa harus bertele-tele mengikuti analisis para Ahli Hadits. Tentu saja, kitab ini sangat cocok bagi kita kaum awam yang terkadang “merasa tidak punya cukup waktu” untuk meng-upgrade keimanan kita dengan menambah ilmu dari sumber-sumber terpercaya.
Menurut hemat kami, daripada membaca ulasan karakter manusia unggul yang bersumber dari penulis-penulis Barat, seribu kali jauh lebih baik kita menelaah karya ini. Ada banyak faidah sekaligus, seperti mendekatkan dengan Kitabullah, karena di dalamnya banyak disitir ayat-ayat Al-Qur’an; kemudian mendengarkan wejangan Rasulullah melalui hadits-hadits beliau. Membaca ayat dan menelaah hadits jelas bernilai ibadah dan mengandung dzikir, sesuatu yang tidak akan kita dapatkan dari karya-karya berbasis psikologi materialis-sekuler yang seringkali anti-tuhan, menolak metafisika, dan tidak sedikit pun berbicara tentang akhirat. Karya ini juga disertai syair, kisah dan kalimat hikmah dari para ulama’ yang mengabdikan hidupnya untuk Allah, bukan manusia-manusia yang menyembah dunia dan menjadi budak materi.
Mengapa kami menilai karya ini sangat bagus untuk ditelaah? Sebab, selain ukurannya yang ringkas, maka seperti dinyatakan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuiddin, bahwa diantara metode terbaik untuk menguatkan iman adalah membaca Al-Qur’an dan tafsirnya, mendengar hadits dan maknanya, menunaikan tugas-tugas ibadah, dan bergaul atau mengenal kisah orang-orang shalih. Kisah dan kata-kata orang yang tidak beriman kepada Allah, apalagi yang memusuhi-Nya, tentu tidak akan steril dari keyakinan mereka. Bukankah keyakinan yang melatari setiap hati pasti terefleksikan melalui kata-kata dan tindakan pemiliknya? Nah, kitab ini telah memuat tiga diantaranya: ayat, hadits, dan kisah.
Sebelum menutup ulasan ringkas ini, kami pikir ada baiknya jika 77 cabang iman tersebut disitir sekarang, sebagai gambaran ringkas. Siapa tahu, sebagian besar sudah kita laksanakan, sehingga kita semakin termotivasi untuk menggenapkan cabang-cabang lainnya, dan kemudian diberkahi menjadi manusia yang berkarakter unggul, dengan izin Allah.
1. Beriman kepada Allah ta’ala
2. Beriman kepada para Rasul Allah ‘alaihim as-salaam
3. Beriman kepada para malaikat Allah
4. Beriman kepada Al-Qur’an dan semua kitab yang terdahulu
5. Beriman kepada qadar (ketentuan) dari Allah, yang baik maupun yang buruk
6. Beriman kepada hari akhir
7. Beriman kepada kebangkitan setelah kematian
8. Beriman bahwa manusia akan dikumpulkan (di mahsyar) setelah mereka dibangkitkan, sampai mereka dipanggil satu per satu menghadap Allah
9. Beriman bahwa tempat tinggal kaum beriman di akhirat adalah surga, sementara tempat tinggal kaum kafir adalah neraka
10. Beriman kepada wajibnya mahabbah (mencintai) Allah ta’ala
11. Beriman kepada wajibnya khauf (merasa takut) kepada Allah ta’ala
12. Beriman kepada wajibnya raja’ (berharap) kepada Allah ta’ala
13. Beriman kepada wajibnya tawakkal (bersandar) kepada Allah ta’ala
14. Beriman kepada wajibnya mencintai Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa aalihi wasallam
15. Beriman kepada wajibnya mengagungkan, menghormati dan memuliakan Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa aalihi wasallam
16. Tidak rela melepas agamanya, sampai tingkatan lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada menjadi kafir
17. Mencari ilmu
18. Menyebarkan ilmu
19. Mengagungkan Al-Qur’an, yakni dengan mempelajari, mengajarkan, memelihara batas-batas serta hukum yang ditetapkannya, memahami halal-haramnya, menghormati ahli Al-Qur’an dan para hafizh-nya, menangis tatkala mendengar janji dan ancaman Allah di dalamnya
20. Bersuci
21. Shalat lima waktu
22. Zakat
23. Puasa
24. I’tikaf
25. Hajji
26. Jihad
27. Berjaga di medan perang (ribath) di jalan Allah ta’ala
28. Teguh menghadapi musuh dan tidak melarikan diri (desersi) dari medan perang
29. Bagi yang mendapat ghanimah, menyerahkan seperlima darinya untuk imam dan para pejabat yang ditunjuk untuk mengumpulkannya
30. Memerdekakan budak semata-mata mengharap wajah Allah ta’ala
31. Menunaikan kaffarat yang wajib bagi yang melanggar hukum jinayat
32. Memenuhi janji
33. Menghitung-hitung nikmat Allah dan mensyukurinya
34. Menjaga lisan dari hal-hal yang tidak ada perlunya
35. Menjaga amanat dan menunaikannya kepada yang berhak
36. Mengharamkan pembunuhan dan tindakan jinayat kepada siapapun
37. Mengharamkan kemaluan dari hal terlarang dan berusaha mejaga kehormatan diri
38. Menahan tangan dari harta (yang bukan haknya)
39. Wajib bersikap wara’ dalam hal makanan, minuman, dan menjauhi hal-hal yang tidak dihalalkan
40. Tidak mengenakan pakaian atau menggunakan wadah-wadah yang haram atau makruh
41. Mengharamkan permainan dan kegiatan selingan yang bertentangan dengan syari’at
42. Berhemat dalam membelanjakan harta dan mengharamkan makan harta secara batil
43. Meninggalkan dendam dan iri dengki
44. Mengharamkan merusak kehormatan orang lain dan tidak menodainya dengan cara apapun
45. Mengikhlaskan amal semata-mata untuk Allah dan tidak riya’
46. Merasa gembira terhadap kebaikan dan sedih terhadap keburukan
47. Mengobati setiap dosa dengan bertaubat
48. Berkurban, termasuh kurban dalam rangkaian ibadah haji, sembelihan kurban di luar ibadah haji, dan akikah
49. Menaati perintah
50. Berpegang teguh terhadap apa yang dipegangi oleh jamaah kaum muslimin
51. Menetapkan hukum diantara manusia secara adil
52. Amar ma’ruf nahi munkar
53. Saling menolong dalam kebajikan dan taqwa
54. Malu
55. Berbakti kepada kedua orang tua
56. Menyambung tali persaudaraan (silaturrahim)
57. Berakhlaq yang baik
58. Berbuat ihsan kepada budak, termasuk pembantu
59. Hak seorang majikan atas budaknya
60. Hak anak dan keluarga
61. Bergaul akrab dengan orang yang taat beragama, mencintai mereka, menebarkan salam kepada mereka, berjabat tangan dengan mereka, dan beragam tindakan lain yang dapat mempererat jalinan cinta kasih dengan mereka
62. Menjawab salam
63. Mdnjenguk orang sakit
64. Menyalati jenazah sesama muslim
65. Mendoakan orang yang bersin
66. Menjauhi orang-orang kafir dan orang-orang yang suka menebar kerusakan, serta bersikap keras kepada mereka
67. Memuliakan tetangga
68. Memuliakan tamu
69. Menutupi kesalahan orang-orang yang berdosa
70. Bersabar menghadapi musibah dan segala yang menarik bagi jiwa, yakni kelezatan dan syahwat
71. Zuhud dan pendek angan-angan
72. Cemburu dan tidak mengizikan pergaulan bebas
73. Berpaling dari hal yang main-main
74. Murah hati dan dermawan
75. Menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih tua
76. Mendamaikan dua orang yang bersengketa
77. Mengharap agar saudaranya sesama muslim memperoleh sesuatu yang dia pun sangat mengharapkannya untuk dirinya sendiri, juga membenci jika saudaranya mendapat sesuatu yang ia sangat membencinya jika menimpa dirinya sendiri

Inilah 77 cabang iman yang dipaparkan dalam kitab Mukhtashar Syu’abul Iman. Semoga Allah membimbing kita untuk mengamalkannya. Amin. Wallahu a’lam.

Catatan: Bagi Anda yang berminat untuk mendapatkan edisi digital dari dua kitab tersebut, juga satu kitab lain yang sejenis, silakan kunjungi tautan berikut ini:
Al-Jami’ Li Syu’abil Iman, link: http://waqfeya.com/book.php?bid=565
Mukhtashar Syu’abil Iman, link: http://archive.org/details/books-5_ahlalhdeeth
Al-Minhaj Fi Syu’abil Iman, link: http://waqfeya.com/book.php?bid=4851

Leave a comment »

Malam Jum’at Disunnahkan Baca Surat Al-Kahfi, Bukan Surat Yasin

Malam Jum’at Disunnahkan Baca Surat Al-Kahfi, Bukan Surat Yasin

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta umatnya hingga akhir zaman.

Membaca surat Yasin pada malam Jum’at menjadi tradisi yang melekat pada masyarakat Melayu, seperti Indonesia dan Malaysia. Selepas Maghrib, rumah-rumah, masjid, dan mushalla ramai dengan lantunan surat Yasin baik dengan sendiri-sendiri maupun berjamaah. Terekam dalam benak, bahwa ini adalah amal yang benar-benar disyariatkan dan memiliki pahala besar. Bagaimana sebenarnya hukum takhsis malam Jum’at dengan membaca surat Yasin?

Pertama, membaca Al-Qur’an dianjurkan kepada kaum muslimin, bahkan termasuk amal utama. Pahalanya sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedekatan seseorang dengan Rabb-nya bisa dilihat seberapa ia dekat dengan Al-Qur’an, karena ia adalah Kalamullah. Maka jika seseorang memperbanyak membaca Al-Qur’an maka itu baik untuknya, termasuk membaca surat Yasin, baik di malam Jum’at atau malam-malam lainnya.

Kedua, Membaca Al-Qur’an termasuk amal ibadah mutlak, tidak terikat kapan dan dimana harus dibaca. Sementara menghususkannya dengan waktu dan tempat tertentu itu membutuhkan dalil. Dan tidak ditemukan dalil shahih tentang anjuran dan fadhilah membaca surat Yasin pada malam dan hari Jum’at. Para ulama ahli hadits menghukumi keutamaan surat Yasin antara dhaif atau maudhu’. Sehingga seseorang tidak boleh menghususkannya pada malam Jum’at dengan meyakini itu termasuk amal khusus yang disyariatkan padanya dan memiliki keutamaan tertentu.

Syaikh Abdurrahman al-Sahim dalam forum Syabkah Misykah Al-Islamiyyah menjawab pertanyaan seputar ini, “Shahihkah Hadits yang Menyebutkan Tentang Membaca Surat Yasin dan al-Shaffat pada Malam Jum’at?”,.

Jawaban beliau, “Ini tidak shahih. Dan disebutkan riwayat:

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ يس فِي لَيْلَةِ الْجُمعَةِ غُفِرَ لَهُ

“Siapa yang membaca surat (Yasin) pada malam Jum’at diampuni dosanya.”

Syaikh Al-Albani berkata: “Dhaif Jiddan (sangat lemah,-ter)” (Lihat: Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib: no. 450). Dan tidak terdapat satu haditspun yang shahih tentang keutamaan surat Yasin.” Wallahu Ta’ala A’lam.

Apa yang Disyariatkan Dibaca Pada Malam dan Hari Jum’at

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.

1. Dari Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”

Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”

Kapan Membacanya?

Sunnah membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya. Dan malam Jum’at diawali sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis. Kesempatan ini berakhir sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’atnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’at.

Imam Al-Syafi’i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum’at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-Umm, Imam al-Syafi’i: 1/237).

Mengenai hal ini, al-Hafidzh Ibnul Hajar rahimahullaah mengungkapkan dalam Amali-nya: Demikian riwayat-riwayat yang ada menggunakan kata “hari” atau “malam” Jum’at. Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud “hari” temasuk malamnya. Demikian pula sebaliknya, “malam” adalah malam jum’at dan siangnya. (Lihat: Faidh al-Qadir: 6/199).

DR Muhammad Bakar Isma’il dalam Al-Fiqh al Wadhih min al Kitab wa al Sunnah menyebutkan bahwa di antara amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada malam dan hari Jum’at adalah membaca surat al-Kahfi berdasarkan hadits di atas. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah, hal 241).

. . . Kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’at. . .

Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum’at

Dari beberapa riwayat di atas, bahwa ganjaran yang disiapkan bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Dan cahaya ini diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit. Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)

Balasan kedua bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at berupa ampunan dosa antara dua Jum’at. Dan boleh jadi inilah maksud dari disinari di antara dua Jum’at. Karena nurr (cahaya) ketaatan akan menghapuskan kegelapan maksiat, seperti firman Allah Ta’ala:

إن الحسنات يُذْهِبْن السيئات

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114)

Penutup

Hari Jum’at merupakan hari yang mulia, hendaknya setiap muslim memuliakannya dengan amal-amal ketaatan. Namun menetapkan amal-amal tersebut tidak boleh hanya dengan anggapan semata, tapi harus didasarkan kepada tuntutan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kita ketahui melalui sunnahnya. Karena dengan ittiba’ kepada sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut, -sesudah ikhlash- seseorang akan diterima amal ibadahnya dan dicintai oleh Rabb-nya. Dan tidak didapatkan sunnah shahihah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menghususkan malam Jum’at ataupun siang harinya dengan membaca surat Yasin. Bersamaan itu, terdapat amal yang dianjurkan oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu membaca surat Al-Kahfi, dan inilah yang dianjurkan oleh Imam al-Syafi’i rahimahullah. Wallahu Ta’aa a’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Tulisan Terkait:

1. Membaca Surat Al-Kahfi di Malam Jum’at Menurut Kiai NU

2. Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi Pada Hari Jum’at

3. Hukum dan Amalan Khusus di Hari Jum’at

Leave a comment »

Urutan turunnya surat-surat alqur’an

Revelation Order of the Qur’an
Revelation
Order
Surah Number
Surah Name Arabic Name Total Verses Revelation Place
1 96 Alaq 19 Macca
2 68 Qalam 52 Macca
3 73 Muzammil 20 Macca
4 74 Mudathir 56 Macca
5 1 Fatehah 7 Macca
6 111 Lahab 5 Macca
7 81 Takwir 29 Macca
8 87 A’la 19 Macca
9 92 Leyl 21 Macca
10 89 Fajr 30 Macca
11 93 Duha 11 Macca
12 94 Inshira 8 Macca
13 103 Asr 3 Macca
14 100 Aadiyat 11 Macca
15 108 Kauthar 3 Macca
16 102 Takatur 8 Macca
17 107 Alma’un 7 Macca
18 109 Kafirun 6 Macca
19 105 Fil 5 Macca
20 113 Falaq 5 Macca
21 114 Nas 6 Macca
22 112 Iklas 4 Macca
23 53 Najm 62 Macca
24 80 Abasa 42 Macca
25 97 Qadr 5 Macca
26 91 Shams 15 Macca
27 85 Buruj 22 Macca
28 95 T’in 8 Macca
29 106 Qureysh 4 Macca
30 101 Qariah 11 Macca
31 75 Qiyamah 40 Macca
32 104 Humazah 9 Macca
33 77 Mursalat 50 Macca
34 50 Q’af 45 Macca
35 90 Balad 20 Macca
36 86 Tariq 17 Macca
37 54 Qamr 55 Macca
38 38 Sad 88 Macca
39 7 A’Raf 206 Macca
40 72 Jinn 28 Macca
41 36 Ya’sin 83 Macca
42 25 Furqan 77 Macca
43 35 Fatir 45 Macca
44 19 Maryam 98 Macca
45 20 Ta Ha 135 Macca
46 56 Waqiah 96 Macca
47 26 Shuara 227 Macca
48 27 Naml 93 Macca
49 28 Qasas 88 Macca
50 17 Bani Israil 111 Macca
51 10 Yunus 109 Macca
52 11 Hud 123 Macca
53 12 Yousuf 111 Macca
54 15 Hijr 99 Macca
55 6 Anam 165 Macca
56 37 Saffat 182 Macca
57 31 Luqman 34 Macca
58 34 Saba 54 Macca
59 39 Zumar 75 Macca
60 40 Mumin 85 Macca
61 41 Hamim Sajdah 54 Macca
62 42 Shura 53 Macca
63 43 Zukhruf 89 Macca
64 44 Dukhan 59 Macca
65 45 Jathiyah 37 Macca
66 46 Ahqaf 35 Macca
67 51 Dhariyat 60 Macca
68 88 Ghashiya 26 Madina
69 18 Kahf 110 Macca
70 16 Nahl 128 Macca
71 71 Noah 28 Macca
72 14 Ibrahim 52 Macca
73 21 Anbiya 112 Macca
74 23 Muminun 118 Macca
75 32 Sajdah 30 Macca
76 52 Tur 49 Macca
77 67 Mulk 30 Macca
78 69 Haqqah 52 Macca
79 70 Maarij 44 Macca
80 78 Naba 40 Macca
81 79 Naziat 46 Macca
82 82 Infitar 19 Macca
83 84 Inshiqaq 25 Macca
84 30 Rum 60 Macca
85 29 Ankabut 85 Macca
86 83 Tatfif 36 Macca
87 2 Baqarah 286 Madina
88 8 Anfal 75 Madina
89 3 Aal-e-Imran 200 Madina
90 33 Ahzab 73 Madina
91 60 Mumtahana 13 Madina
92 4 Nisa 176 Madina
93 99 Zilzal 8 Macca
94 57 Hadid 29 Madina
95 47 Muhammad 38 Madina
96 13 Ra’d 43 Madina
97 55 Rahman 78 Macca
98 76 Dahr 31 Madina
99 65 Talaq 12 Madina
100 98 Beyinnah 8 Madina
101 59 Hashr 24 Madina
102 24 Nur 64 Madina
103 22 Hajj 78 Madina
104 63 Munafiqun 11 Madina
105 58 Mujadila 22 Madina
106 49 Hujurat 18 Madina
107 66 Tahrim 12 Madina
108 64 Taghabun 18 Madina
109 61 Saff 14 Madina
110 62 Jumah 11 Madina
111 48 Fath 29 Madina
112 5 Maidah 120 Madina
113 9 Taubah 129 Madina
114 110 Nasr 3 Madina

Leave a comment »

Ayat 8 Surah Al- Insan,kemiskinan fatimah dan ali

Ayat 8 Surah Al- Insan
Posted on 01/11/2012 by Ummu El Nurien

السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الر حمن الرحيم

Cerita ayat ini sebenarnya sudah kutulis pada coretan Bukan sekedar Tinta Emas. Ayat ini ku tulis lagi, karena ingin aku memulai dalam blogku ada kategori Asbabunnuzul.
Ada cerita yang mulia , yang penuh berkah dibalik sebuah ayat. Kisah- kisah dibalik turunnya sebuah ayat adalah cerita yang sangat luar bisa, sehingga Allah abadikan didalam Alquran. Betapa Allah memuliakan kehidupan, pengorbanan mereka, sehingga dari orang yang pertama membaca, belajar ayat Al- Quran sampai sekarang itu akan mengalir pada mereka. Subhanallah.. .. Dibalik cerita mereka banyak tersimpan pelajaran yang dapat kita ambil. Dengan mengetahui cerita dibalik sebuah ayat maka kita akan memahami maksud dari ayat itu. Dan tentu masih banyak lagi manfaat yang bisa kita ambil dibalik asbabun nuzul.

Dah lama ingin menyimpan asbab- asbab turunnya ayat- ayat Alquran yang sering kubaca dalm blogku. Mungkin teman- teman pernah membacanya pada buku- buku Asbabun nuzul, tafsir Al- Quran. tak apa.. Karena aku menulisnya disini, hanya berharap setiap hurup yang kuketik, bisa menyentuh , menggugah hatiku, bisa termotivasi jejak kehidupan para sahabat, dan pastinya juga dengan tau cerita – cerita dibalik ayat Alquran, aku berharap hafalanku makin mampu bertahan, dibalik banyaknya kesibukanku .

Mudahan Allah mampukan kita untuk mengikuti jejak langkah mereka, dan di akherat kelak bisa berkumpul dengan mereka. Tak ada yang lebih mulia, dari pada mengambil dari kehidupan mereka. Tak ada yang lebih besar pengorbanan dalam memperjuangkan agama, selain pengorbanan mereka. Tak ada darah yang lebih mulia selain darah mereka. Tak ada tangisan yang lebih berharga selain tangis anak isteri mereka. Tak ada teman yang mulia dari pada mereka. Tak ada orang yang patut dikagumi dan digemari selain mereka. Takada orang yang lebih patut dirindukan selain Rasulullah saw dan mereka. Ya mereka teman,,. para sahabat,, mereka yang sering Allah puji- puji dalam Alquran. Tak ada yang dapat mengumpulkan kita dengan mereka selain mengikuti jejak kehidupan mereka..

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. “

——————————————————————————————————-

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”

Ibnu Mardawaih rah.a telah menukilkan secara ringkas dari Ibnu Abbas r.humaa, ” bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali r.a dan Fathimah r.ha..

” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.humaa. bahwa pada suatu ketika Hasan r.a dan Husien r.a sedang sakit parah. Maka Ali r.a dan Fatihmah r.ha bernadzar, apabila kedua anaknya sembuh, mereka akan berpuasa sebagai tanda rasa syukur. Dengan karunia Allah swt kedua anaknya telah sembuh. Keduanya pun mulai berpuasa nadzar, akan tetapi dirumah mereka tidak sesuatu untuk makan sahur dan berbuka puasa. Mereka berpuasa dalam keadaan sangat lapar. Pada pagi harinya, Ali r.a pergi kepada seorang yahudi yang bernam Syam’un. Ali r.a berkata” jika engkau ingin menyuruh seseorang untuk memintal wol dengan imbalan, maka putri Rasulullah saw bersedia melakukannya”. Orang yahudi itu menyetujui dengan ketentuan satu gulung wol diberi diberi imbalan tiga sha’ gandum. Pada hari pertama, Fathimah r.ha memintal sepertiga bagian wol, kemudian ia mengambil satu sha’ gandum, lalu ditumbuk dan dimasaknya menjadi lima potong roti, yakni untuk Ali r.a, Fathimah r.ha, Hasan r.a, Husien r.a, dan seorang hamba sahaya perempuannya yang bernama Fidhdhah. Ketika waktu berbuka puasa tiba, dan ketika Ali r.a pulang dari shalat maghrib berjamaah dengan Rasulullah saw., dan Fathimah r.ha telah bekerja selama sehari penuh, sekeluarga telah duduk bersama untuk berbuka puasa. Alas makan telah dibentangkan , diatasnya sudah disiapkan roti untuk berbuka puasa. Ali r.a mengambil roti untuk dimakannya, tiba- tiba terdengar seorang fakir berkata dengan keras didepan pintu,

“ wahai keluarga Muhammad, aku adalah seorang fakir, berilah makanan kepadaku, semoga Allah swt memberimu makan dari makanan surga.” Ali r.a segera menahan tangannya dan bermusyawarah dengan Fathimah r.ha. fathimah r.ha berkata,” Berikanlah.” Kemuadian Ali r.a memberikan semua roti kepada fakir miskin itu, tanpa menyisakan sedikit pun. Dan mereka tidur setelah berbuka puasa hanya dengan air.

Dalam keadaan seperti itu, mereka mulai berpuasa pada hari kedua, Fathimah r.ha memintal sebagian wol yang kedua, dan menerima satu sha’ gandum. Ia menumbuk tepung itu dan memasaknya. Ketika Ali r.a setelah selesai shalat dengan Rasulullah dan duduk untuk makan bersama keluarganya , seorang anak yatim meminta-minta didepan pintu sambil mengatakan bahwa dirinya miskin dan hidup sendirian. Mereka pun menyerahkan semua roti itu kepada yatim tersebut, dan mereka tidur setelah berbuka hanya dengan air.

Pada hari ketiga, Fathimah r.ha memintal sisa wol dan menerima sati sha’ gandum lalu menumbuk dan memasaknya. Sehabis shalat maghrib ketika mereka duduk untuk berbuka berpuasa, seorang tawanan datang dan meminta- minta sambil mengatakan bahwa dirinya dalam kesusahan . mereka pun memberika semua roti itu kepadanya dan mereka kembali tidur tanpa makan apapun.

Pada hari keempat mereka memang tidak berpuasa, tetapi dirumah tidak ada sesuatu pun yang dapat mereka makan. Ali r.a membawa kedua anaknya menghadap Rasulullah saw dengan berjalan tertatih- tatih karena tidak makan selama berturut- turut. Rasulullah saw bersabda,” sungguh menyedihkan hatiku melihat kalian menderita kekurangan dan kesengsaraan . Mari kita temui Fathimah r.h.” Rasulullah saw menemui Fathimah r.ha yang dilihatnya sedang mengerjakan shalat nafil. Mata Fathimah r.ha terlihat cekung, perutnya tertarik sampai menempel kepunggung karena sangat lapar. Rasulullah saw memeluk putrinya dan mendo’akan rahmat Allah swt baginya dan keluarganya. Pada saat itulah jibril as datang mewahyukan ayat dia atas.”.

coba kita lihat ayat berikutnya:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”

Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.

Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,

Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan.

Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.

Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca.

(yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.

Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.

(Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.

Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.

Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.

Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).( QS. Al- Insaan: 9- 22)”

subhanallah berapa banyak pahala yang mengalir kepada mereka asbab turunnya ayat ayat ini. Bahkan didunia pun mereka sudah mendapat kabar gembira tentang kehidupan akherat kelak.. subhanallah.. Mudahan kita bisa mengikuti jejak mereka..

Dari berbagai sumber. Ayat – Ayat Al- Quran di ambil dari: Dudung net

Leave a comment »

Solusi manual tuk ilmu-ilmu komputer

Leave a comment »